Teliti Sel Surya Pengganti Bahan Bakar Fosil

Jumat, 23 Feb 2018 | 17.24 WIB

Teliti Sel Surya Pengganti Bahan Bakar Fosil

Yoyok Cahyono yang mempresentasikan disertasinya tentang sel surya. (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Belakangan ini, ketergantungan manusia sangat besar terhadap bahan bakar fosil. Kini, sudah banyak gerakan yang mengurangi penggunaan bahan bakar tersebut dan menggantinya dengan energi terbarukan. Salah satunya terkait penelitian sel surya yang bisa untuk mengatasi ketergantungan tersebut. Sayangnya, penggunaan sel surya berbasis silikon kristal memerlukan material yang cukup banyak, sehingga harganya relatif mahal. 

Kini kendala itu pun sudah terjawab. Penelitian yang dilakukan Yoyok Cahyono inilah yang mampu mengatasi kendala tersebut. Melalui disertasi yang dipresentasikannya dalam sidang doktor terbuka di Theater B Departemen Fisika, Fakultas Ilmu Alam ITS, Kamis (22/2/2018), mampu menjawab masalah yang ada.

Dalam sidang yang dipromotori Prof Dr Darminto MSc, Prof Suminar Pratapa MSc PhD dan Dr M Zainuri MT tersebut, Yoyok Cahyono mendapat predikat sangat memuaskan dengan disertasi berjudul ‘Pengembangan Film Intrinsik Lapis Jamak Sel Surya Berbasis Silikon Amorf Terhidrogenasi’.

Penelitian yang dilakukan dosen Departemen Fisika ITS ini berhasil menumbuhkan film intrinsik lapis tunggal dan jamak dengan berbagai lebar celah pita energi, sifat-sifat dan parameter-parameter proses deposisinya. Dengan variasi lebar celah pita energi, absorptivitas atau tingkat serapan energi dapat menjadi lebih maksimal. Film intrinsik sel surya berbasis silikon amorf terhidrogenasi (a-Si:H) tersebut juga memegang peran penting untuk menyerap energi surya untuk mengeksitasi elektron (memindahkan energi tanpa ionisasi).

Semua lapis dari film intrinsik dideposisi pada chamber PECVD (Plasma-Enhanced Chemical Vapor Deposition) yang sama dan dengan bahan gas yang sama. “Selanjutnya, proses fabrikasinya diharapkan bisa menjadi lebih mudah, efektif, efisien dan murah,” terang Yoyok. 

Harga yang lebih murah tersebut, lanjut Yoyok, lantaran adanya penggunaan substrat kaca komersil serta konsentrasi silan yang rendah sebagai upaya yang dilakukan untuk mengurangi biaya produksi.

Yoyok juga menjelaskan tentang mimpinya menuju sel surya berbasis a-Si:H yang murah dan efisiensi melampaui 13,6 persen. Menurut ayah tiga anak itu, angka tersebut merupakan efisiensi terbaik sel surya yang berbasis silikon amorf. Dosen yang berasal dari Situbondo tersebut juga menambahkan jika dirinya dan Kelompok Penelitian Bahan Maju Sel Surya, Departemen Fisika ITS akan tetap melakukan penelitian terkait pengembangan metode dasar terkait fabrikasi dan efisiensi sel surya multilayer.

“Selain menargetkan realisasi peningkatan efisiensi sel surya, kami juga bertekad untuk mewujudkan prototipenya,” pungkas Yoyok. (windhi/by)