Arsitek Indonesia Kagumi Tata Kelola Kota Surabaya

Kamis, 22 Feb 2018 | 18.45 WIB

Arsitek Indonesia Kagumi Tata Kelola Kota Surabaya

Wali Kota Risma mengajak peserta konvensi IAI melihat-lihat Surabaya. (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Para arsitek yang tergabung dalam Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) rupanya tertarik dengan tata kelola kota yang cantik sekelas Kota Surabaya. Rupanya kecantikan arsitektur kota ini tak saja menjadi daya tarik wisatawan. Untuk itulah, para praktisi dari IAI ini berniat membangun sekaligus mengobservasi bangunan-bangunan yang tersebar di beberapa kawasan Kota Pahlawan. 

IAI mempercayakan Surabaya menjadi tuan rumah menggelar acara bertitel ‘Konvensi Arsitektur Indonesia’ yang digelar sejak 22-25 Februari 2018. Acara itu secara resmi dibuka Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersama Ketua IAI Nasional Ahmad Djuhara, Perwakilan Kementerian PUPR beserta anggota Komisi V DPR di Balai Andhika Hotel Majapahit Surabaya, Kamis (22/2/2018).

Di hadapan puluhan arsitek se-Indonesia dan arsitek mancanegara (Malaysia, Thailand dan Singapura), Tri Rismaharini mengemukakan bagaimana konsep yang dibangun dirinya dalam hal tata kota di Kota Surabaya. “Bisa dilihat, saya menyulap kawasan eks lokalisasi dolly, melakukan penertiban PKL, membangun lapangan futsal, pelebaran jalan, pembangunan waduk untuk mengurangi intensitas genangan air, taman untuk mempertemukan orang muda dan orang tua. Itu semua menggunakan ilmu arsitek,” kata Risma, sapaan akrab wali kota. 

Mneurut dia, momentum digelarnya acara ini bagi Kota Surabaya sebagai wadah untuk belajar bagaimana menata kota yang lebih baik lagi ke depan. Utamanya, mewujudkan kota yang nyaman sebagai tempat tinggal bagi setiap manusia. “Nyaman dalam arti sesungguhnya, kota ini menjadi tempat tinggal yang aman, layak dan ramah sehingga lebih manusiawi. Itu bisa diciptakan melalui keilmuan arsitek,” terang wali kota.

Wali Kota Risma juga mengaku, selama mendesain bangunan di Surabaya, dirinya tetap mempertahankan budaya bangunan yang masih melekat pada masyarakat. Meskipun, lanjut wali kota, kondisi dan fasilitas bangunan terus berubah dari waktu ke waktu. “Kondisi sekarang memasuki zaman now, namun saya yakin perilaku manusia tidak menjadi jelek, sekalipun kawasan tersebut padat penduduknya,” ungkapnya.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Nasional Ahmad Djuhara menuturkan, alasan memilih Kota Surabaya sebagai tempat untuk menyelenggarakan Konvensi Arsitek Indonesia karena tata kelola kota yang ada di Surabaya sangat komprehensif dan paling dimengerti oleh banyak orang. Surabaya layak dijadikan contoh bagi kota-kota yang ada di Indonesia dan dunia dalam urusan tata kelola kota. 

Alasannya, kata dia, Wali Kota Risma yang mengeyam sarjana arsitek mampu menata Kota Surabaya dengan baik. “Beliau, tidak hanya berhasil membangun kota yang cantik rupanya atau sosok bangunannya tetapi orientasinya lebih kepada manusianya,” urainya.

Berbicara Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mana semua negara bersaing untuk mendapatkan pengakuan sekaligus menunjukkan kemampuannya, Ahmad menegaskan bahwa saat ini, posisi profesi arsitek Indonesia dimata ASEAN sudah setara. Artinya, arsitek Indonesia tidak hanya bertahan tapi juga bisa bersaing keluar.

Sigit perwakilan Komisi V DPR menambahkan, ini adalah saat yang tepat bagi IAI untuk melakukan konsolidasi sebagai lembaga profesi yang mampu diandalkan. (windhi/by)