DPRD Jatim Minta Peralatan BLK Ditingkatkan

Kamis, 06 Des 2018 | 23.59 WIB

DPRD Jatim Minta Peralatan BLK Ditingkatkan

Lambang DPRD Jawa Timur (ist)


Centroone.com - Komisi E DPRD Jawa Timur meminta ada peningkatan dan revalitasi fasilitas pelatihan di Balai latihan Kerja (BLK). Hal ini dilakukan agar tenaga kerja lokal di Jatim bisa siap pakai di dunia industri.

Anggota Komisi E DPRD Jatim KH Kusni Muhammad Husni mengatakan, Fraksi PKB dalam Pandangan Umum soal LKPJ-AMJ menilai kurangnya fasilitas yang layak bagi BLK dalam memberikan pelatihan kepada calon tenaga kerja yang siap pakai di dunia industri. "Hampir seluruh BLK di Jatim kondisinya memprihatinkan, alat yang digunakan tidak update, sedangkan disisi lain perkembangan teknologi sangat cepat, menuntut keahlian Tenaga Kerja Lokal. Jika kondisi BLK saja mengalami ketertinggalan, bagaimana bisa melahirkan calon tenaga kerja yang mumpuni dan ahli,” ujarnya.

Menurutnya, jika calon Tenaga Kerja diajarkan dengan alat yang mengalami ketertinggalan, maka Tenaga Kerja Lokal tidak akan mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan tenaga kerja. Untuk itu harus dilakukan revitalisasi BLK, harus ada update alat dan teknologi serta alat-alat yang sudah tidak layak diganti dengan alat baru yang sesuai dengan perkembangan industri, sehingga bisa melahirkan calon Tenaga Kerja yang mumpuni dan ahli.

“Dengan adanya revitalisasi dan peningkatan BLK maka akan mampu melahirkan calon tenaga kerja lokal yang mumpuni dan memiliki keahlian khusus sehingga mampu bersaing dengan tenaga kerja asing,” tuturnya.

Menanggapi masukan tersebut, Gubernur Jatim Soekarwo dalam Pandangan Umum soal LKPJ-AMJ menjelaskan bahwa terkait kekurangan peralatan di BLK, telah dilakukan proses penguatan BLK dengan revitalisasi terhadap Sumber daya pelatihan. Itu meliputi,

Peningkatan kuantitas dan kualitas SDM mulai tenaga instruktur dengan peningkatan kompetensi instruktur melalui program Training Of Trainer (TOT). Sarana gedung manajemen berbasis International Organization For standardization (ISO) peralatan yang diarahkan mengikuti perkembangan IPTEK, namun belum optimal.

Lebih lanjut Soekarwo menambahkan, di BLK juga telah diajarkan untuk siswa juga sudah disesuaikan dengan kebutuhan industri, bekerjasama atau MoU dengan beberapa pelaku industri untuk memperoleh bantuan peralatan. (windhi/by)