ITS Bahas Kedaulatan Pangan dan Energi

Kamis, 06 Des 2018 | 02.00 WIB

ITS Bahas Kedaulatan Pangan dan Energi

Seminar hari pertama yang menghadirkan beberapa pembicara. (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Indonesia kaya akan sumber daya alam  di dunia maritim. Hal ini tentu harus bisa dikelola secara maksimal. Tujuannya agar bisa menghasilkan pangan dan energi yang layak.

Guna membahas teknologi maritim untuk kedaulatan pangan dan energi, Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS Surabaya pun menghelat Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi (SENTA) di gedung Riset Center, Rabu (5/12/2018). Seminar tahunan ke-18 ini merupakan sebuah wadah forum bagi para peneliti dan engineer dalam bidang teknologi maritim baik dari Indonesia maupun mancanegara.

Dihelat selama dua hari, SENTA 2018 menghadirkan lima pembicara kunci. Yakni Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Prof Ir Syarif Widaja PhD dan Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Harris ST MT yang didapuk sebagai pembicara di hari pertama. Serta Prof Ikegami Yasuyuki dari Institute of Ocean Energy Saga University, Prof Kungyen Lee dari Ocean Engineering of National Taiwan University dan Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Dr Chairil Abdini yang akan mengisi di hari kedua.

Menurut Nur Syahroni PhD, Ketua Pelaksana SENTA2018, tema teknologi maritim dalam kedaulatan pangan dan energi diangkat karena potensi Indonesia dalam sumberdaya pangan dan energi sangatlah besar. Pengelolaan yang baik diperlukan agar Indonesia tidak selalu bergantung dengan negara lain sebagai pemasok energi dan pangan.

Jika hal ini tidak dilakukan, lanjut Syahroni, maka Indonesia tidak akan dapat maju bersaing dengan negara-negara lainnya. “Upaya peningkatan kedaulatan pangan dan energi ini melalui pengembangan teknologi maritim yang mendukung pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia,” terang Ketua Pusat Studi Kelautan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS ini.

Sementara Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Harris ST MT menerangkan bahwa dalam sektor maritim, pemerintah melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM telah melakukan beberapa upaya pengembangan pilot project energi laut. 

Diantaranya, kerjasama studi potensi pembangunan pilot project pembangkit listrik tenaga arus dengan Agence Francaise de Development (AFD) dari Prancis. Kemudian, adanya kerjasama dengan Pemerintah Austria untuk membangun pilot project pembangkit listrik tenaga arus laut yang sedang dalam tahap diskusi terkait pendanaan.

Sedangkan dengan instansi dalam negeri, lanjut Harris, Kementerian ESDM dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berencana mengembangkan Pembangkit Listrik Energi Arus Laut yang berintegrasi dengan Jembatan Pancasila Palmerah di Selat Larantuka dengan kapasitas 30 Mega Watt dan investasi kurang lebih 215 juta USD.

Menurut Harris, untuk sektor kelautan ini Indonesia memang masih kurang dikembangkan dibanding sektor energi yang lain. Hal ini disebabkan karena pemanfaatan sektor kelautan sebagai sumber energi masih pada tahap pengembangan riset. Riset terkait juga sudah banyak dilakukan oleh banyak lembaga. Hanya saja, kolaborasi antarlembaga riset yang masih kurang optimal dikembangkan, sehingga hasilnya masih kurang maksimal.
“Suatu saat kita perlu pertemukan lembaga-lembaga ini, bahkan dengan pihak luar yang memiliki teknologi canggih,” ungkapnya.

Dalam sektor pangan dan kelautan, pemerintah telah banyak menerapkan teknologi terkini untuk menunjang program-programnya. (windhi/by)