Google Terapkan Lisensi Berbayar Untuk Aplikasi Bawaan Android

Rabu, 31 Okt 2018 | 19.00 WIB

Google Terapkan Lisensi Berbayar Untuk Aplikasi Bawaan Android

ilustrasi (pixabay)


Centroone.com - Bulan Juli lalu, Google lewat perusahaan induknya, Alphabet menerima tamparan denda sebesar USD 5 miliar (sekitar Rp 72 triliun) dari Otoritas persaingan bisnis Komisi Uni Eropa. Denda itu, dikarenakan  Otoritas persaingan bisnis Komisi Uni Eropa menganggap produk Google, sistem operasi Android, telah memonopoli pasar dan tidak memberi kesempatan pemain lain berkembang. 

Terkait hal tersebut, Google berniat mengubah cara mereka melisensikan rangkaian aplikasi Android-nya di Eropa.  Sistem operasi Android dasar akan tetap gratis dan bersumber terbuka, tetapi jika pabrikan ponsel dan tablet menginginkan aplikasi Google dan Play Store, mereka harus membayar biaya lisensi di Eropa.  Play Store dan banyak aplikasi Google lainnya, seperti Gmail, Google Maps, dan YouTube, akan dikelompokkan bersama di bawah perjanjian lisensi berbayar yang disebut paket Google Mobile Services (GMS). 

Google membandrol  hingga 40 dolar AS (atau Rp 600.000) atas lisensi aplikasi-aplikasi yang tergabung GMS.  Biaya yang ditetapkan akan beragam tergantung pada negara dan ukuran perangkat. Sedangkan standar yang ditetapkan untuk dibayar oleh semua produsen peranti keras, mayoritas membayar 20 dolar AS (setara Rp 300.000).

"Karena pra-install Google Search dan Chrome bersama dengan aplikasi kami yang lain membantu kami mendanai pengembangan dan distribusi gratis Android, kami akan memperkenalkan perjanjian lisensi berbayar baru untuk ponsel pintar dan tablet yang dikirim ke [Kawasan Ekonomi Eropa]," tulis Hiroshi Lockheimer, yang memimpin Android seperti dilansir dari The Verge. 

Pembuat perangkat memiliki tiga opsi di sini: menghadirkan ponsel tanpa Play Store atau aplikasi Google lainnya, menghadirkan ponsel dengan Play Store dan semua aplikasi Google tapi tanpa Chrome dan Search dan  terakhir membuat ponsel dengan semua aplikasi tersebut, seperti kebanyakan ponsel Android masa kini. 

Lockheimer menjelaskan bahwa Android secara lebih luas akan tetap bebas dan open source. Perubahan ini hanya memengaruhi produk Google yang secara tradisional dipaketkan dengan OS.  Harga tersebut akan berlaku untuk perangkat yang diaktifkan setelah 1 Februari 2019.  by