Tingkatkan Ilmu Wirausaha,Toko Klontong Akan Dibimbing Mantri Ekonomi

Jumat, 28 Jul 2017 | 21.31 WIB

Tingkatkan Ilmu Wirausaha,Toko Klontong Akan Dibimbing Mantri Ekonomi

Wali Kota Tri Rismaharini memberi motivasi kepada pedagang toko klontong Surabaya. (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Tak ingin dunia usaha kecil dan menengah mati langkah dalam menjalankan usahanya, Pemkot Surabaya memiliki perhatian serius terhadap upaya untuk membesarkannya. Bahkan sampai toko kelontong saja jadi perhatian wali kota. Para pedagang toko kelontong di Surabaya, diajak untuk meningkatkan keterampilan dan profesionalisme dalam berdagang. Tujuannya agar pedagang itu bisa maju dan tidak sampai ‘gulung tikar’ karena kalah bersaing dengan toko-toko modern.

Secara bertahap, Pemkot Surabaya melalui Dinas Perdagangan, memberikan pelatihan kewirausahaan kepada pedagang kelontong di Surabaya. Jumat (28/7/2017), sebanyak 205 pedagang toko kelontong hadir dalam pelatihan kewirausahaan berbasis koperasi yang digelar di gedung Siola.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Surabaya Arini Pakistyaningsih mengatakan, acara ini merupakan tahap kedua. Sebelumnya, pada Maret 2017, Pemkot Surabaya juga sudah mengumpulkan 20 pedagang kelontong untuk mendapatkan edukasi dan pencerahan yang digelar di Graha Sawunggaling. “Tahap satu dulu untuk uji coba. Target kami, tahun ini ada tiga kali acara seperti ini. Harapannya, tahun ini sedikitnya ada 250 pedagang kelontong dari total 2.065 pedagang kelontong se-Surabaya yang mendapatkan pelatihan,” ujar Arini Pakistyaningsih.

Menurut Arini, dinasnya mendapatkan tugas khusus dari wali kota Surabaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pedagang kelontong di Kota Pahlawan. Ada harapan besar dari wali kota agar para pedagang kelontong di Surabaya semakin profesional dan omset dagangannya semakin besar.

“Ibu (wali kota, red) ingin mereka lebih maju dari sebelumnya. Karena itu mereka kami dampingi. Karena kalau tidak ada pendampingan dari dinas dan juga dibekali keterampilan, berdagangnya akan begitu terus. Dan yang dikhawatirkan, usaha mereka akan tergilas. Tidak boleh ada yang kukut (bangkrut, red) karena minimnya pengetahuan berwirausaha,” jelas Arini.

Dan wujud konkret dari pendampingan tersebut, Dinas Perdagangan memiliki mantri ekonomi. Hingga kini, kurang lebih ada 70-an mantri ekonomi yang tersebar di 31 kecamatan di Surabaya. Mantri ekonomi ini merupakan staf yang dilatih khusus untuk mendampingi pedagang toko kelontong. Satu orang mantri ekonomi bertugas mendampingi 10 pedagang toko kelontong. Oleh mantri ekonomi, pedagang akan dipantau kemampuan mereka dalam melakukan manajemen keuangan, manajemen retail ataupun manajemen distribusi.

“Kemudian kami hubungkan langsung dengan para pemasok komoditas. Seperti petani, peternak, dan pabrikan langsung untuk bisa mendapatkan harga murah. Itu mereka harus pertahankan. Kalau kulakannya murah, jualannya juga harus eceran harga tertinggi, tidak boleh jual lebih mahal. Tujuannya, stabilitas harga di Surabaya akan tercapai,” sambung Arini.

Sementara saat membuka acara, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersemangat memotivasi para pedagang kelontong untuk maju bersama dalam wadah koperasi. Wali kota mengibaratkan, lidi lemah bila hanya sendirian, tetapi bisa kuat bila bergabung bersama. Terlebih dalam menghadapi persaingan usaha dengan toko modern yang tentu saja memiliki modal lebih besar dibanding toko kelontong.

“Panjenengan semua diundang ke sini agar bisa maju bersama. Saya ingin panjenengan sukses. Kami menfasilitasi untuk memberikan pelatihan keterampilan, tinggal panjenengan mau atau tidak. Karena, untuk apa saya membangun Surabaya kalau warganya hanya menjadi penonton di kotanya sendiri,” ujar wali kota. (windhi/by)