Tekan Peredaran Smartphone Ilegal, Kemenperin Rangkul Qualcomm

Senin, 10 Apr 2017 | 07.00 WIB

Tekan Peredaran Smartphone Ilegal, Kemenperin Rangkul Qualcomm

ilustrasi (IST)


Centroone.com - Dengan jumlah penduduk sebanyak kurang lebih 250 juta jiwa atau terbanyak di Asean, Indonesia adalah sebuah pasar menggiurkan bagi para perusahaan produsen ponsel.  Di Indonesia sendiri, dalam waktu lima tahun terakhir, jumlah pelanggan telekomunikasi seluler di Indonesia meningkat sebesar empat kali lipat, dari 63 juta menjadi 211 juta pelanggan.   Sementara jumlah ponsel yang beredar di Indonesia diperkirakan sebanyak 300 juta unit.

Dengan potensi ini, tentu saja Indonesia tidak luput dari peredaran ponsel ilegal. Kehadiran ponsel ilegal ini makin meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan teknologi di masyarakat. Tak mau peredaran ponsel ilegal merugikan bangsa terlalu jauh, serta melindungi industri dan keamanan konsumen dalam negeri. Kementerian Perindustrian akan melakukan kerja sama dengan produsen chipset terkemuka, Qualcomm untuk memeriksa nomor yang tercantum pada International Mobile Station Equipment (IMEI) di  setiap perangkat ponsel impor yang masuk ke Indonesia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto pengidentifikasian tersebut dimulai dari pemeriksaan nomor yang tercantum pada IMEI di dalam perangkat ponsel. "Kalau upaya ini bisa kita terapkan dengan baik, kerugian negara bisa dihilangkan akibat ponsel-ponsel yang ilegal," ujarnya.

Berdasarkan perhitungan Qualcomm, ponsel ilegal yang beredar di Indonesia berpotensi menghilangkan pendapatan negara sebesar 20 persen karena tidak ada pajak yang dipungut.

"Selain untuk mendapat angka kerugian dari ponsel ilegal, kerja sama ini juga diharapkan bisa menekan cybercrime yang terus meningkat," ujar Airlangga. Saat ini sendiri ada  sebanyak 17 manufaktur dalam negeri yang mampu merakit produk ponsel.

Indonesia sendiri juga telah mensyaratkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) 30 persen bagi para produsen smartphone,terutama pengusung teknologi 4G , yang ingin mengedarkan produknya di Indonesia. bbs