Disediakan Koperasi, Toko Kelontong Didorong Berkembang

Sabtu, 01 Apr 2017 | 07.00 WIB

Disediakan Koperasi, Toko Kelontong Didorong Berkembang

Para pemilik toko kelontong yang siap ikut koperasi untuk berkembang. (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Saat ini, gempuran toko modern di tengah kehidupan masyarakat sangatlah dahsyat. Jika tak ada inovasi bagi usaha kecil masyarakat, maka dengan sendirinya akan tergusur. Untuk itulah butuh sentuhan pemerintah dalam hal membangkitkan gairah usaha kecil masyarakat.

Seperti yang dilakukan Pemkot Surabaya atas komitmen besarnya mendorong pemilik toko kelontong di Kota Pahlawan menjadi lebih berdaya. Dalam hal ini, pemkot selalu melakukan sosialisasi pemberdayaan dan pengelolaan toko kelontong berbasis koperasi.

Sebanyak 300 pemilik toko kelontong di Surabaya, kemarin dipertemukan dalam acara pemberdayaan tersebut. Mereka bertemu langsung dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Eko Haryanto dan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Arini Pakistyaningsih. Pemilik toko kelontong itu adalah perwakilan dari 31 kecamatan di Surabaya.

Saat itu, wali kota mendorong pemilik toko kelontong untuk maju bersama dalam wadah koperasi. Menurut wali kota, toko kelontong ibarat lidi, jika sendiri pasti akan lemah. Namun jika bergabung bersama, maka akan kuat. Terlebih dalam menghadapi persaingan usaha dengan toko modern bermodal lebih besar, maka akan sulit.

“Dengan bergabung di koperasi, akan banyak keuntungan yang didapat pemilik toko kelontong. Ini yang kami persiapkan untuk semuanya. Memang ada aturan untuk toko modern yang bisa memberi peluang bagi toko kelontong untuk berkembang, tapi hal itu tak bisa diandalkan,” tegas wali kota.

Selama ini, ada beberapa hal yang membuat pemilik toko kelontong tidak mampu bersaing dengan minimarket. Diantaranya karena faktor penataan toko dan pelayanan dari pemilik toko. Bahkan tidak sedikit pemilik toko kelontong yang kurang ramah, bahkan judes ketika melayani pembeli.

“Yang terpenting itu pelayanan. Katanya pembeli itu raja, tetapi pelayanannya kurang bagus, tidak ramah. Penempatannya juga nggak bagus. Orang mau beli tapi jalan lewatnya ditutupi galon atau epiji. Itu alasannya kalah bersaing. Harus bisa diubah menjadi lebih baik,” sambung wali kota.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Eko Haryanto mengatakan, pemkot telah memiliki mantri ekonomi yang salah satunya bertugas untuk memberikan pelatihan kepada pemilik toko kelontong agar usahanya bisa lebih berkembang. Hingga kini, kurang lebih ada 70-an mantri ekonomi yang tersebar di 31 kecamatan di Surabaya.

Menurut Eko, pihaknya akan fokus untuk membenahi beberapa hal yang selama ini menjadi permasalahan bagi pemilik toko kelontong. Diantaranya produk yang dijual monoton dan teknik penataan barang yang terkadang semrawut. “Mantri ekonomi ini yang akan melakukan pelatihan untuk mencapai kondisi yang diinginkan. Semisal bagaimana meningkatkan keanekaragaman produk, menata barang di toko, juga cara melayani penjual. Hasilnya akan dilaporkan ke kami,” jelas Eko.

Terkait perlunya koperasi bagi pemilik toko kelontong, Eko menyebut Dinas Koperasi dan Usaha Mikro sudah melakukan pendataan. Dari 31 kecamatan, ada beberapa kecamatan yang akan menjadi percontohan, diantaranya Kecamatan Sukolilo, Kecamatan Tambasari dan Kecamatan Sawahan. (windhi/by)