Penerapan IoT Munculkan Tantangan Keamanan Baru

Selasa, 21 Mar 2017 | 17.00 WIB

Penerapan IoT Munculkan Tantangan Keamanan Baru

ilustrasi (IST)


Centroone.com - Studi Aruba, bagian dari perusahaan Hewlett Packard Enterprise mengungkapkan berbagai tingkat kematangan IoT di sektor-sektor industri yang berbeda.  Banyak perusahaan gencar mengadopsi Internet of Things (IoT) guna meningkatkan keuntungan bisnis, seperti peningkatan efisiensi dan inovasi di sektor-sektor enterprise, industri, layanan kesehatan, ritel dan pemerintahan di seluruh dunia.

Studi Aruba juga mengungkapkan sejumlah kendala yang dianggap para pemimpin TI sebagai penghambat bagi IoT dalam menghadirkan manfaat bisnis yang lebih besar.  Perusahaan-perusahaan di wilayah Asia Pasifik menyatakan biaya implementasi (53%), biaya pemeliharaan (52%), dan kesulitan dalam mengintegrasikan IoT dengan teknologi-teknologi lawas (47%) sebagai kendala-kendala utama, yang merupakan suatu sentimen yang dirasakan di seluruh dunia.

Yang paling utama, kelemahan-kelemahan keamanan ditemukan di banyak pemanfaatan IoT. Studi ini menemukan bahwa 88% perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik telah mengalami setidaknya satu pembobolan keamanan terkait IoT, yang merupakan angka tertinggi di dunia. Lebih dari separuh responden menyatakan bahwa serangan eksternal merupakan hambatan utama dalam menerapkan dan mengadopsi suatu strategi IoT.

Visioner teknologi, Kevin Ashton, pencipta istilah ‘Internet of Things.’ menjelaskan IoT sebagai kemampuan untuk menangkap dan menggunakan data secara efektif, namun hal ini tampaknya menjadi suatu tantangan nyata lainnya bagi perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik. Meskipun hampir seluruh (98%) perusahaan yang telah mengadopsi IoT mengklaim bahwa mereka mampu menganalisis data, mayoritas yang sama mengakui adanya tantangan-tantangan dalam menciptakan nilai dari data tersebut. Lebih dari sepertiga (35%) perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik tidak mengekstrak atau menganalisis data di dalam jaringan-jaringan perusahaan, yang membuat mereka kehilangan wawasan mendalam yang dapat meningkatkan keputusan-keputusan bisnis.

“Sejak pengenalan perdananya di tahun 1999, Internet of Things telah ditertawakan, dikritik, dan disalahpahami. Namun, kita telah sampai di titik ini, kurang dari dua dekade kemudian, di dunia di mana puluhan ribu perusahaan menghemat dan menghasilkan ratusan juta dolar dari Internet of Things, menggunakan mobil yang dikemudikan sendiri, stasiun kereta bawah tanah yang mengenali penumpang, algoritma yang mendiagnosa penyakit mematikan dengan menggunakan ponsel, dan banyak teknologi lainnya yang dahulu tampaknya mustahil. Masa depan menjanjikan hal-hal yang jauh lebih menakjubkan. Keputusan paling penting yang dapat Anda ambil saat ini adalah bagaimana menjadi bagian dari hal tersebut.” tutur Kevin Ashton.

Sementara itu Chris Kozup, Vice President of Marketing, Aruba menuturkan walaupun IoT berkembang dalam hal penggunaan, skala dan kompleksitas, metodologi keamanan yang tepat untuk melindungi jaringan dan perangkat-perangkat, dan yang lebih penting lagi, melindungi data dan wawasan yang mereka hasilkan, juga harus berkembang.

" Jika para pelaku bisnis tidak mengambil langkah-langkah cepat untuk meningkatkan visibilitas dan memprofil aktivitas-aktivitas IoT di dalam kantor-kantor mereka, mereka menghadapi risiko pengeksposan terhadap aktivitas-aktivitas yang berpotensi bahaya. Aruba memungkinkan para pelanggan untuk menilai secara cepat pemanfaatan-pemanfaatan IoT di dalam fasilitas mereka dan menentukan setiap potensi ancaman yang mungkin timbul"  pungkasnya. by