Meluruskan Miskonsepsi Dalam Pembelajaran

Senin, 27 Feb 2017 | 19.00 WIB

Meluruskan Miskonsepsi Dalam Pembelajaran

Kegiatan belajar mengajar di SDN Penanggungan bersama pendamping (Centroone)


Centroone.com -  – Tanpa disadari, seringkali pendidik melakukan miskonsepsi saat proses pembelajaran. Untuk itu Badan Pembangunan Internasional Amerika melalui program USAID Prioritizing Reform, Innovation, Opportunities for Reaching Indonesia’s Teacher, Administrators, and Students (PRIORITAS) melatih fasilitator dari 11 kabupaten mitra di Jawa Timur konsep dasar dalam pembelajaran SD/MI dan SMP/MTs yang selama ini sering terjadi miskonsepsi, sulit untuk mengajarkan, dan kesulitan mengemas dalam pembelajaran aktif.
 
Pelatihan tersebut bertajuk ‘Pelatihan untuk Pelatih Tingkat Provinsi Modul 4 dan Pendampingan untuk SD/MI dan SMP/MTs’. Kegiatan tersebut diikuti oleh fasilitator daerah dari Kab Blitar, Kab Situbondo, Kab Pamekasan, Kab Mojokerto, Kab Madiun, Kab Kab Ngawi, Kab Lumajang, Kab Lamongan, Kab Banyuwangi, Kab Jombang, Kota Batu
 
USAID PRIORITAS memfokuskan pada 3 mata pelajaran (Mapel). Yaitu literasi/bahasa Indonesia, matematika, dan IPA. Miskonsepsi sering terjadi dalam pembelajaran matematika, sedangkan sulit mengajar kebanyakan teks berbasis fakta dan fiksi secara aktif dan keterbatasan penguasaan guru dalam mengajarkan ‘membaca permulaan’  pada Mapel Literasi/Bahasa Indonesia.
 
Kesulitan mengajar secara aktif difokuskan pada Mapel IPA. Hal ini didasarkan kondisi umum bahwa banyak guru berlatar belakang  Fisika, Biologi, atau Kimia saja. Padahal dalam topik ada ketiganya. Materi tersebut juga sering dijumpai dalam kehidupan namun kenyataannya siswa sering sulit memahami.
 
“Miskonsepsi yang terjadi dalam pembelajaran sering tidak disadasari oleh guru. Dalam pelajaran IPA misalnya, memuat materi yang sangat banyak dan luas cakupanya sehingga siswa kesulitan untuk menyerap semua materi dengan baik. Apalagi banyak konsep dasar yang membutuhkan visualisasi/pratikum yang membantu mempermudah pemahaman konsep bagi siswa. Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk aktif, kreatif sehingga dapat membangun pengetahuannya sendiri dari pengalaman yang diperolehnya untuk mereduksi miskonsepsi. Untuk itulah pelatihan ini dilaksanakan,” ujar Budi Kuncoro, Senior Manager for University Stakeholder and Coordination USAID PRIORITAS Jakarta.
 
Modul IV ini melengkapi tiga modul sebelumnya yang sudah dilatihkan kepada lebih dari 30.000 SD/MI dan SMP/MTs, yaitu modul 1 PAKEM/pembelajaran kontekstual, modul 2 pendekatan saintifik, dan modul 3 keterampilan informasi.
 
Selama 4 hari, sejumlah 80 peserta melakukan curah pendapat/ pengalaman terkait materi/ implementasi  dan berbagi pengalaman miskonsepsi siswa. Kemudian melakukan identikasi, analisis penyebab, merumuskan solusi miskonsepsi dan pengamatan (video)/percobaan.  Selanjutnya, peserta dipandu fasilitator dosen dari Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), melakukan pemantapan/pengayaan konsep serta kegiatan terakhir merancang skenario lembar kerja/diskusi implementasi dan pelaporan.
 
Selain meluruskan miskonsepsi dalam pembelajaran, kegiatan TOT Modul 4 ini dilengkapi dengan kegiatan pendampingan. Menurut Khudori Muhammad selaku Teacher Training Officer USAID PRIORITAS Jatim tujuan pelatihan terkait pendampingan adalah meningkatkan kemampuan fasilitator daerah terkait pengamatan pembelajaran dan kemampuan melaksanakan pendampingan kepada para guru.
 
Pelatihan di hari ke-3, seluruh peserta wajib melakukan praktik pendampingan di SDN Percobaan 2 Malang, SDN penanggungan Malang, SMPN 4 Batu, dan SMPN 6 Batu.
 
Anita Setyaningrum Guru Kelas III di SDN Penanggungan Malang yang didampingi mengungkapkan, pendampingan yang telah dilaksanakan oleh peserta pelatihan dari USAID PRIORITAS memberikan banyak masukan terkait cara mengajarnya. “Dengan didampingi saya menjadi tahu kesalahan yang saya lakukan saat mengajar dan apa saja yang perlu saya perbaiki,” terangnya.
 
Imam Sugiyanto, peserta yang mendampingi Anita Setyaningrum mengungkapkan ternyata tidak mudah saat melakukan pendampingan. “Tantangan yang paling sulit adalah bagaimana mendampingi guru tanpa terkesan menggurui dan mengkritik. Sehingga keterampilan dalam berkomunikasi sangat diperlukan dalam pendampingan,” ungkapnya. by