Pemilik Angkutan Kota Masih Tak Percaya Koperasi

Jumat, 17 Feb 2017 | 01.00 WIB

Pemilik Angkutan Kota Masih Tak Percaya Koperasi

angkot di Surabaya (Centroone)


Centroone.com - Terkait penertiban angkutan kota berdasar UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta PP 78, yang mewajibkan angkutan kota untuk masuk dalam wadah koperasi, bak gayung bersambut. Di Surabaya, sebenarnya sudah ada enam koperasi.

Koperasi itu terbentuk dan disahkan oleh Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Enam koperasi itu adalah Koperasi Jasa Mandiri Sejahtera yang berdiri pada 29 November 2013, Koperasi Roda Transportasi Abadi yang berdiri pada 6 Juni 2013, Koperasi Jasa Lancar Sejahtera Bersama, Koperasi Jasa Mitra Bersama, Koperasi Jasa Mentari Sejahtera Bersama dan Koperasi Jasa Sejahtera Bersama.

Namun dari enam koperasi angkutan yang sudah terbentuk itu, hanya satu koperasi (Koperasi Jasa Mandiri Sejahtera) yang memiliki izin usaha angkutan dan menjalankan usahanya sesuai prinsip dasar koperasi (unit usaha yang berjalan masih sebatas simpan pinjam). Koperasi ini melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang pertama kali pada 8 Pebruari 2017 di kompleks terminal Bratang Surabaya, dihadiri para anggota dan pengurus koperasi, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro serta Dishub Surabaya.

“Anggota koperasi ini sebanyak 28 anggota, di mana ada 45 kendaraan dari angkutan umum, mikrolet dan bus kota yang tergabung. Dan yang sudah melakukan balik nama atas nama koperasi sebanyak 23 kendaraan,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Surabaya Irvan Wahyudrajat, Kamis (16/2/2017).

Jumlah tersebut terbilang masih sedikit. Sebab, sekarang ini jumlah angkutan yang aktif masih sekitar 2.500 angkutan. Sebelum ada rerouting, jumlah angkutan kota di Surabaya mencapai 4.800-an angkutan. Dari jumlah sebesar itu, semula ada 53 trayek dan kini hanya tersisa 34 trayek saja. Artinya, dengan jumlah tersebut, akan memudahkan pengusaha angkutan untuk memasukannya ke dalam koperasi.

Karenanya, Dishub dan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Surabaya terus mendorong agar mereka tergabung dalam koperasi dan mengaktifkan koperasi yang sudah ada. “2.500 itu potensi untuk menjadi anggota koperasi. Sosialisasi terus kami lakukan untuk mendorong pemahaman para pemilik angkutan,” jelas pejabat asal Tuban ini.   

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Surabaya Eko Haryanto mengatakan, masih sedikitnya pemilik angkutan yang tergabung dalam koperasi, dikarenakan ada beberapa kendala yang dihadapi. Diantaranya banyak pemilik kendaraan yang kurang memahami prinsip-prinsip dasar perkoperasian dan pengetahuan managerial bagi pengurus koperasi dalam mengelola koperasi.

“Ada kekhawatiran bila ikut koperasi, apabila legalitas kepemilikan kendaraan atas nama koperasi, bila ada hal-hal yang tidak diinginkan dalam organisasi koperasi, pemilik tidak memiliki kuasa atas hak yang dimiikinya,” ujar Eko.

Kendala lainnya, kepercayaan terhadap pengurus koperasi masih rendah sehingga khawatir ada kejadian yang tidak diinginkan di kemudian hari. Juga adanya stigma buruk terhadap koperasi karena sebagian besar koperasi yang dibentuk dulunya telah mengalami kebangkrutan dan membawa citra buruk bagi calon anggota.

“Kami akan coba ajak bicara lagi pada minggu ini dan kami bimbing mereka sehingga koperasi yang sudah ada bisa dioperasionalkan dan dapat menjalankaan usahanya dengan baik dan benar dalam jangka pendek maupun jangka panjang,” sambung pejabat yang pernah menjabat kepala Dinas Sosial ini. (windhi/by)