Belajar Dari Frankfurt, Komisi C Akhirnya Dukung Trem

Selasa, 31 Okt 2017 | 17.30 WIB

Belajar Dari Frankfurt, Komisi C Akhirnya Dukung Trem

Gedung Dewan Surabaya (Centroone)


Centroone.com - Suara dewan melalui Komisi C DPRD Surabaya yang semula ‘berat’ menerima proyek trem, kini berubah. Delapan anggota Komisi C yang diberangkatkan ke Frankfurt, Jerman selama seminggu, melihat langsung kondisi penyediaan angkutan massal di kota tersebut.

Menurut Ketua Komisi C Syaifudin Zuhri, Frankfurt dengan jumlah penduduk yang hanya 200 ribu jiwa, berhasil menata angkutan massalnya dengan baik. Bahkan, kata Syaifudin, angkutan massal jenis trem di kota itu sangat baik. Hal ini juga dibenarkan anggota Komisi C Sukadar. 

“Kita mendukung upaya pembangunan trem di Surabaya. Tapi sistem pengelolaannya jangan menggunakan Build Operate Transfer, namun harus dengan Build Transfer Operate. Artinya, pengelolaan itu bisa dilakukan bersama dengan swasta murni yang tetap melibatkan pemerintah. Dengan BTO, setelah penyelesaian pembangunan bisa diserahkan ke pengelolaan publik, dalam hal ini pemerintah. Kalau dengan sistem BOT, maka pemerintah atau kita hanya menerima barang rongsokan setelah kontrak pengelolaannya selesai,” tegas Syaifudin.

Terkait masalah pengelolaan, Syaifudin mengusulkan jika pengelolaan angkutan massal itu bisa dikelola pemkot dengan mendirikan BUMD. Sehingga pengelolaan penuh tetap oleh pemerintah. Surabaya bisa meniru Jakarta yang menyediakan bus way dengan pengelolaan ada di Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Masih menurut dia, sarana transportasi yang disediakan pemerintah memang dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan publik. Semua transportasi yang ada mudah dijangkau masyarakat hingga kepemukimannya. “Semua ada di semua area publik, mampu terkoneksi mulai pemukiman, perkantoran dan lainnya. Bahkan untuk waktu juga bisa dijamin. Di Frankfurt tak saja ada trem tapi juga ada bus way,” beber politikus PDI Perjuangan.

Trem di kota itu juga melintas di jalan raya. Namun kesadaran warga juga sangat tinggi, penataannya sudah bagus secara estetika. Beda dengan Surabaya yang merupakan kota lama dengan kepadatan penduduk tinggi. Lahan untuk trem sangat sedikit.

“Warga di Frankfurt sangat paham dengan waktu transportasi massalnya. Kendaraan di kawasan lalu lintasnya juga sedikit, sehingga tak pernah bersinggungan dengan transportasi massal. Di kota itu banyak pembatasan, seperti pembatasan kendaraan. Bahkan penyediaan transportasi massalnya juga banyak sehingga tepat waktu dan tak pernah mengganggu arus lalu lintas yang ada. Surabaya apakah bisa seperti itu,” tandas Syaifudin. (windhi/by)