Lebih Dari Sejuta Warga Jatim Masih Buta Aksara

Senin, 09 Jan 2017 | 20.08 WIB

Lebih Dari Sejuta Warga Jatim Masih Buta Aksara

ilustrasi warga belajar menulis (IST)


 
Centroone.com - Dari data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutkan dari enam provinsi dengan tingkat buta aksara tertinggi di Indonesia, ternyata Jawa Timur menduduki peringkat tertinggi. Mengacu pada data 2015, dari 5,9‎ juta penduduk Indonesia yang buta aksara, 1.458.184 warga Jatim diketahui tidak bisa baca tulis. Disusul kemudian Jawa Tengah sebanyak 943.683 orang, Jawa Barat 604.378, Papua 584.441 orang, Sulawesi Selatan 375.221, dan Nusa Tenggara Barat 315.258 orang. Tingginya buta aksara di wilayah Jawa menurut Harris, dipicu oleh tidak meratanya pendidikan yang diperoleh penduduk. 

Dengan jumlah penduduk banyak dan tersebar di wilayah 3T, membuat masyarakat sulit mendapatkan akses pendidikan."Buta aksara itu selalu nempel dengan kemiskinan. Kemiskinan dominan di Pulau Jawa karena jumlah penduduknya sangat padat.  Ada enam provinsi yang terpadat buta aksaranya. Nomor wahidnya Jawa Timur," ungkap‎ ‎Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar yang datanya dirilis pada September 2016 lalu.

USAID PRIORITAS yang bekerja dalam bidang pendidikan menyasar kabupaten / kota mitra di Jatim dengan indeks pembangunan manusia (IPM) pada zona merah atau rendah, salah satunya adalah wilayah-wilayah dengan buta aksara tinggi. Dijelaskan oleh Silvana Erlina Koordinator USAID PRIORITAS Jatim, pemilihan kabupaten / kota sebagai mitra USAID PRIORITAS Jawa Timur merupakan hasil diskusi dan kesepakatan para pengambil kebijakan di tingkat provinsi dan disetujui oleh Gubernur Jawa Timur dalam rangka membantu meningkatkan kualitas pendidikan di kabupaten / kota yang masuk pada zona merah.

Ke-19 kabupaten / kota tersebut meliputi Kab Situbondo, Kab Blitar, Kab Madiun, Kab Mojokerto, Kab Pamekasan (Kohor 1); Kab Lumajang, Kab Ngawi (Kohor 2); Kab Lamongan, Kab Jombang, Kab Banyuwangi, dan Kota Batu (Kohor 3). Kabupaten/kota mitra DBE adalah Kab Sidoarjo, Kota Mojokerto, Kab Nganjuk, Kab Bojonegoro, Kab Tuban, Kab Pasuruan, Kab Bangkalan, dan Kab Sampang.

“Kami bekerja selama 5 tahun di 19 kabupaten / kota mitra dalam rangka membantu meningkatkan kualitas pendidikan di 19 kabupaten / kota yang berada di zona merah IPM, salah satunya dengan menurunkan angka buta huruf melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pemerataan guru,” terangnya.

Hingga Juli 2016, USAID PRIORITAS Jatim telah melatih lebih dari 13.880 pendidik yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas dari 19 kabupaten / mitra (Data M&E Jatim). “Apabila dikalkulasi maka Program USAID PRIORITAS sudah menyentuh lebih dari 1,9 juta siswa sekolah dasar dan menengah di 19 kabupaten / kota,” ungkap Silvana.

Tingginya buta aksara di Jatim menurut Silvana erat kaitannya dengan persebaran guru yang tidak merata antara perkotaan dan perdesaan, disamping masalah kualitas pendidik dan pembelajaran juga memicu. Para guru di kabupaten banyak bekerja di sekolah yang berdomisili di perkotaan. Sementara di perdesaan ketersediaan guru sangat kurang.

Salah satu contoh daerah mitra USAID PRIORITAS Jatim yang pemerataan gurunya tidak imbang antara perdesaan dan perkotaan adalah Kabupaten Blitar. Dari temuan tersebut, dengan pendampingan dari USAID PRIORITAS, Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar mendapatkan pendampingan dan pelatihan Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR). PKR sendiri adalah suatu bentuk pembelajaran pendidikan dasar yang mensyaratkan seorang pendidik mengajar peserta didik, yang terdiri dari dua atau lebih tingkatan kelas yang berbeda dalam satu proses pembelajaran dan dalam waktu yang bersamaan. PKR tersebut kemudian diimplementasikan pada sekolah-sekolah yang kekurangan guru.

Dimana 1 guru bisa mengajar di 2 kelas secara bersamaan apabila materi yang diberikan sama atau berhubungan. Hal ini semata-mata agar permasalahan di daerah bisa teratasi sehingga tingkat buta aksara bisa berkurang. Memasuki penghujung tahun ke-5 program atau tahun terakhir, Silvana mengungkapkan banyak sekali dampak positif yang terlihat dari hasil pendampingan dan kemampuan siswa di bidang membaca seperti memahami isi bacaan, membaca lancar, dan kemampuan menyimak berdasarkan hasil Early Grade Reading Assesment (EGRA) atau penilaian membaca di kelas awal sekolah dasar yang dilakukan oleh USAID PRIORITAS Jatim, datanya menunjukkan peningkatan setiap tahun. by


...
0



There are 0 comments in this current article