Surabaya Belum Bebas Gizi Buruk

Kamis, 26 Jan 2017 | 06.00 WIB

Surabaya Belum Bebas Gizi Buruk

ilustrasi (iST)


Centroone.com - Kota Surabaya sebagai Kota Metropolitan, rupanya belum bebas dari gizi buruk.  Diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rahmanita, berdasarkan data dinasnya, masih ada  sejumlah balita mengalami gizi buruk. Febria mengungkapkan, prevalensi (jumlah penderita gizi buruk) dari tahun ke tahun mengalami penurunan.

Dia menambahkan, menurunnya jumlah balita gizi buruk selain karena sosialisasi, pihaknya melakukan pendampingan."  Prevalensi gizi buruk 0,13 persen.  Yang mengalami gizi buruk maupun yang kurang gizi kita dampingi,” jelas Febria.


Balita kurang gizi menurutnya, kondisinya tidak sampai buruk, namun hanya kekurangan gizi. Febria Rahmanita mengungkapkan, pihaknya memiliki data tentang kondisi para balita. Pasalnya, setiap bulan para orang tua menimbang balitanya ke posyandu.

Pola pendampingan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, diantarannya dengan memberikan pengetahuan kepada para orang tua tentang cara memasak hingga mengolah makanan. Pelatihan itu meliputi menu untuk balita hingga cara memasaknya.

Sementara menurut anggota Komisi D DPRD Surabaya Reni Astuti, Pemkot Surabaya harus memberikan penanganan khusus terhadap balita, meskipun jumlah penderita di Surabaya relatif kecil. Namun hal itu tetap membutuhkan perhatian pemerintah.

Sejak 2013, Kota Surabaya sudah menyandang Kota Sehat Swastisaba Pradapa. Artinya, semestinya tak ada lagi kasus gizi buruk di Kota Pahlawan ini. Namun jika ada, tetap harus diketahui lokasinya dan harus dilakukan pendampingan.

Menurut dia, penanganan gizi buruk di Surabaya sudah cukup baik. Selama ini, balita mendapatkan makanan tambahan dari pemkot. Pemberian makanan tambahan tidak hanya dilakukan di posyandu, melainkan juga puskesmas setempat, terutama terhadap balita yang didiagnosis menderita gizi buruk.

Dia juga meminta agar selalu aktif ke posyandu. Ini agar tak terjadi kasus gizi buruk. Penderita gizi buruk tak selamanya disebabkan oleh faktor kemiskinan. Ada juga penderita karena sakit atau penyakit bawaan sehingga berat badannya tak sesuai standar. (windhi/by)