Jadi Menteri Untuk Ketiga Kali, Ini Rekam Karir Menkopolhukam Wiranto

Rabu, 27 Jul 2016 | 22.00 WIB

Jadi Menteri Untuk Ketiga Kali, Ini Rekam Karir Menkopolhukam Wiranto

Wiranto (Dok Centroone)


Centroone.com - Presiden Joko Widodo hari ini, Rabu, (27/07/2016) kembali melakukan perubahan atau reshuffle dalam jajaran kabinet.  Dalam reshuflle kali ini, total ada 12 Menteri baru dan juga 1 pejabat setingkat menteri yang dilantik.  Sejumlah nama lama dan baru muncul dalam reshuffle.  Salah satu yang menarik adalah munculnya sosok Ketua Umum Hanura, Wiranto sebagai Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan menggantikan Luhut B Pandjaitan, yang ditugaskan menjadi Menteri Kemaritiman.

Dengan kembali ke lingkup kabinet, maka Wiranto resmi menjabat menteri untuk ketiga kali. Di era pemerintahan Soeharto dan B.J. Habibie, Wiranto dipercaya menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan 14 Maret 1998 - 20 Oktober 1999. Ketika pemerintahan dipimpin Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan periode 26 Oktober 1999 - 15 Februari 2000.

Karir militer pria kelahiran Yogyakarta, 4 April 1947 ini memang cemerlang.  Mengawali dengan  menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1987 - 1991. Setelah itu, karier militer Wiranto semakin menanjak ketika ditunjuk sebagai Kepala Staf Kodam Jaya, Pangdam Jaya, Pangkostrad, dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Maret 1998, Soeharto menunjuk Wiranto menjadi Panglima ABRI. Pada tahun itu juga, terjadi pergantian pucuk kepemimpinan nasional. Soeharo mundur dari RI 1 dan digantikan B.J. Habibie.

Pada masa itu, Wiranto salah satu tokoh kunci mengendalikan keamanan. Habibie mempertahankan Wiranto sebagai Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan. Saat Gus Dur memimpin, karier Wiranto tetap bersinar. Ia dipercaya sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, namun kemudian ia mengundurkan diri.

Terjun di dunia politik,  Pada 2004, Wiranto maju sebagai calon presiden bersama Salahuddin Wahid sebagai calon wakil presiden. Langkah Wiranto kandas pada putaran pertama karena hanya memperoleh 26.286.788 suara atau 22,15 persen. Menyongsong Pemilihan Umum 2009, Wiranto mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), 21 Desember 2006. 1 Mei 2009, Wiranto menyatakan kembali ikut Pilpres. Tetapi kali ini ia sebagai calon wakil presiden dari Jusuf Kalla. Pasangan ini kalah telak dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Menjelang Pilpres 2014, Wiranto masih punya hasrat memimpin negeri ini. Jauh-jauh hari, Wiranto mendeklarasikan diri sebagai bakal calon presiden bersama pengusaha media Hary Tanoesoedibjo sebagai bakal calon wakil presiden. Namun duet itu terpaksa buyar di tengah jalan karena  Hanura tidak cukup suara mengusung Wiranto-Hary Tanoe di Pilpres. Keduanya pecah kongsi. Wiranto dan partainya mendukung pencapresan Joko Widodo, sedangkan Hary Tanoe ada di barisan pendukung Prabowo Subianto.bbs