Semen Indonesia Siap Penuhi Kebutuhan Nasional

Kamis, 31 Mar 2016 | 06.00 WIB

Semen Indonesia Siap Penuhi Kebutuhan Nasional

Kegiatan produksi semen (Centroone)


Centroone.com - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, Rabu (30/3/2016), menggelar diskusi 'Jayeng Cangkruk' bertema Kesiapan Industri Semen Dalam Mendukung Pengembangan Infrastruktur. Acara yang digelar di kantor PWI Jatim Jl Taman Apsari itu dihadiri Dirut PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Suparni, Direktur Keuangan PT Semen Indonesia Ahyanizzaman dan Asisten Sekdaprov Jatim Bidang Perekonomian Hadi Prasetyo.

Dalam diskusi itu, Suparni menjelaskan jika seiring kebijakan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah Indonesia, maka kebutuhan semen sangat besar. "Untuk nasional, kebutuhan semen pada 2016 sebanyak 80 juta ton. Pada 2015 kebutuhannya mencapai 65 juta ton. Sementara Semen Indonesia mampu memproduksi semen untuk kebutuhan nasional sebesar 29 juta ton (Semen Gresik, Semen Padang dan Semen Tonasa, red). Produksi itu ditambah dengan anak usaha kami Cement Thang Long sebanyak 3,2 juta ton, jadi Semen Indonesia sebanyak 31,2 juta ton," tegas Suparni.

Sementara Hadi Prasetyo memaparkan, Jatim membutuhkan semen sebesar 44 persen dari nilai pembangunan di provinsi ini yang mencapai Rp106 triliun. Hal itu menyangkut pembangunan dalam bidang konstruksi.

Dia juga mengakui, ada impor semen di Jatim sebanyak 265 ribu ton pada 2014. Namun diharapkan kebutuhan semen di Jatim sudah mampu dipenuhi Semen Indonesia. "Untuk MEA tentu Semen Indonesia sudah siap menghadapinya. Jatim saat ini butuh semen untuk jalan cor, sebab kalau menggunakan aspal justru butuh biaya pemeliharaannya mahal," tambah Hadi Prasetyo.

Dia juga menjelaskan terkait ekspor barang dari Indonesia ke negara lain, sering diperlakukan dengan teliti. Maksudnya, misalnya ekspor makanan maka akan diteliti produk itu secara seksama selama 30 hari apakah aman atau tidak. Jika lolos barulah barang itu bisa masuk ke negara importir, tentu waktu yang lama bisa merusak produk tersebut.

Hadi Prasetyo menegaskan, Pemprov Jatim sesuai aturan WTO boleh membalas kebijakan luar negeri yang mengharuskan uji laboratorium sampai 30 hari. "Ini bisa merusak produk. Kalau mau, Semen Indonesia jika diperlakukan seperti itu bisa melaporkannya ke Pemprov Jatim. Jadi pemprov bisa membalasnya sesuai WTO tapi membalasnya melalui sektor lain dengan cara elegan terhadap negara tersebut," ungkap Hadi Prasetyo. (windhi/by)