Cuitan "Pahlawan Kafir" Bawa Dwi Estiningsih Berurusan Dengan Hukum

Rabu, 21 Des 2016 | 20.00 WIB

Cuitan

Dwi Estiningsih (Facebook/ist)


Centroone.com - Kehadiran uang Rupiah baru memang mencuri perhatian banyak pihak. Banyak yang memuji tapi juga tidak sedikit mencela atau mengkritik. Salah satunya wanita asal Yogyakarta bernama Dwi Estiningsih  ini. Lewat Twitter, Dwi Estiningsih mengkritik 5 pahlawan nasional di uang rupiah baru yang disebutnya sebagai kafir.

Akibat cuitan itu, Dwi kini harus berurusan dengan hukum pasalnya, sebuah lembaga bernama  Forum Komunikasi Anak Pejuang Republik Indonesia (Forkapri) melaporkannya ke Polda Metro Jaya dengan tudingan hate speech atau ujaran kebencian.   "Forkapri melaporkan Dwi Estiningsih atas twit berisi ujaran kebencian bernuansa SARA di akun Twitter-nya," ujar Birgaldo Sinaga selaku kuasa hukum pelapor, Ahmad Zaenal Efendi, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Dalam laporan bernomor LP/6252/XII/2016/PMJ/Dit.Reskrimsus, Dwi dilaporkan atas tuduhan Pasal 28 ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Birgaldo mempersoalkan dua cuitan Dwi pada akun Twitter @estiningsihdwi pada 19 Desember lalu. Pertama adalah cuitan "Iya sebagian kecil dari non muslim berjuang, mayoritas pengkhianat. Untung sy belajar #sejarah".

"Kemudian cuitan keduanya yaitu 'Luar biasa negeri yg mayoritas Islam ini. Dari ratusan pahlawan, terpilih 5 dari 11 adalah pahlawan kafir. #lelah." Dwi mencuitkan itu saat me-retweet sebuah berita dari akun @wartapolitik berjudul 'Tiada Pahlawan Imam Bonjol di Dompet Kami Lagi'. Menurut Birgaldo, cuitan Dwi tersebut, terutama kata 'kafir', dinilai mengandung unsur kebencian. Dwi juga dinilai tidak menghargai kebhinekaan negara Indonesia.

Dwi Estiningaih sendiri, berdasarkan apa yang dituturkan Birgaldo adalah  seorang kader PKS yang pernah maju sebagai caleg dan seorang Master Psikologi dari UGM.  Sementara itu terkait hal ini, PKS menegaskan bahwa cuitan Dwi di media sosial adalah tanggung jawab pribadinya.  "Saya kira itu pendapat pribadi ya. Kan dia nulisnya di akunnya sendiri. Sama sekali tidak mewakili pendapat partai," kata Ketua DPP Bidang Humas PKS, Dedi Supriadi, Rabu (21/12/2016).

Dwi diketahui pernah menjadi caleg PKS untuk DPRD DIY di Pemilu 2014 lalu, namun gagal. Mengenai apakah Dwi masih kader atau tidak, Dedi tidak mengetahuinya secara pasti. "Yang lebih tahu tentang status keanggotaan DPW PKS DIY," ungkapnya. bbs