Waspada Disleksia, Jangan Terburu Cap Anak Kurang Pintar

Jumat, 28 Okt 2016 | 17.00 WIB

Waspada Disleksia, Jangan Terburu Cap Anak Kurang Pintar

dr Yudith saat menjelaskan tentang Disleksia (Centroone/Windhi)


Centroone.com - Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang cerdas atau pintar. Hal ini tentu butuh kerjasama antara orang tua dan guru dalam membimbing anak tersebut. Namun jika ada anak usia sekolah dasar masih sulit membaca, menulis ataupun berhitung, janganlah disalahkan anak tersebut atau anak itu jangan dicap sebagai anak yang tidak pintar. Patut dicurigai jika anak tersebut sebagai anak dengan Disleksia.

Tak hanya masalah baca, tulis dan berhitung saja, jika kita mendapati anak kita sampai usia dua tahun masih belum mampu berbicara, itu juga patut dicurigai sebagai anak dengan Disleksia. Disleksia bagi masyarakat memang masih asing. Padahal, Disleksia ini adalah kelainan neurologis yang menyebabkan anak atau seseorang mengalami gangguan membaca spesifik atau gangguan berbahasa. Bahka memori otaknya sangat lemah.

Selain itu, anak yang susah mengenal huruf, bingung membedakan kiri dan kanan, bicara selalu terbalik-balik dan sering tak paham dengan kata-kata sederhana adalah ciri yang mudah untuk mengenal anak dengan Disleksia.

Hal ini tak bisa dipandang sebelah mata. Jika dibiarkan, maka kecerdasan anak tersebut sulit berkembang. Anak dengan Disleksia ini butuh pendampingan khusus, butuh intervensi yang mampu mengarahkan mereka untuk bisa berkembang. Beruntung, dibalik semua itu masih ada kelebihan anak dengan Disleksia.

Namun jangan minder, anak dengan Disleksia ini bisa menjadi orang yang berhasil. Sebut saja Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Tom Cruise, Stephen Spielberg dan masih banyak lagi tokoh dunia yang dulunya sebagai anak dengan Disleksia.

Menurut dr Ursula Yudith Sawitri Sp.THT selaku Ketua Dyslexia Parents Support Group (DPSG) Jatim, Disleksia ini lebih pada faktor genetika. Namun penanganannya harus serius dan butuh intervensi khusus atau pendampingan. “Disleksia itu ada yang ringan, sedang dan berat. Hanya saja, banyak orang tua yang tak tahu anaknya dengan Disleksia. Kadang jika kemampuan belajar anaknya di sekolah sangat rendah, orang tua hanya bisa marah-marah. Begitu juga dengan para guru, selalu mencap anak tersebut dengan anak yang paling bodoh,” ujar dr Yudith yang mengaku sebagai anak dengan Disleksia.

Yudith juga menjelaskan, tiga anaknya semua dengan Disleksia. Hanya saja, karena intervensi yang benar, maka anak pertama dan keduanya kini mampu menempuh pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Sementara dia mengakui, anak ketiganya yang justru harus diintervensi dengan gigih.

Menurut dia, Disleksia yang diidap anak, maka anak itu akan mengalami kesulitan belajar. “Kosa katanya kurang, jadi sulit untuk berkomunikasi. Kesulitan belajar spesifik itu ada tiga, yakni Dyslexia, Dysgraphia dan Dyscalculia. Kita harus curiga sejak dini jika anak usia dua tahun belum bisa bicara. Namun saat umur tujuh tahun, anak itu butuh pemeriksaan para ahli. Kalau ini tak kita sadari, anak dengan Disleksia tak terintervensi dengan baik, maka bisa gagal sekolahnya, gagal di pekerjaan dan gagal dalam pergaulan sosial,” beber Yudith didampingi psikolog anak, Asteria R Saroinsong S.Psi.

Untuk itu, jika para orang tua ingin tahu tentang Disleksia, bisa hadir pada acara Dyslexia Speaks Up, 29-30 Oktober 2016 di Ciputra World. Selama dua hari itu, kita bisa mengikuti acara pada hari pertama yang berkaitan dengan orang-orang dengan Disleksia. Namun di hari kedua, justru akan mengenalkan Disleksia secara ilmiah. (windhi/by)