Punya Potensi Besar, Pemkot Didesak Hidupkan THR

Rabu, 19 Okt 2016 | 19.00 WIB

Punya Potensi Besar, Pemkot Didesak Hidupkan THR

Taman Hiburan Rakyat (THR) atau Tama Remaja Surabaya (IST)


Centroone.com - Keberadaan Taman Hiburan Rakyat (THR) yang sempat menjadi ikon kebanggaan Kota Surabaya, kini nyaris tak terdengar gaungnya. Hal ini karena seiring terpuruknya pengelolaan tempat tersebut. Melihat kondisi itu, DPRD Surabaya mendorong Pemkot Surabaya untuk merevitalisasinya.

Disampaikan Wakil Ketua Komisi D DPRD Surabaya Junaedi, kondisi tempat pagelaran kesenian tradisional di Surabaya itu sudah sangat memprihatinkan. Selain  kumuh, juga semakin dijauhi pengunjungnya.  Dia menilai, ada beberapa hal yang menjadi penyebab kondisi THR yang kini lebih dikenal sebagai Taman Remaja, kian terpuruk. Disamping, masalah sosialisasi dan promosi ke masyarakat yang  masih sangat kurang, akses menuju ke lokasi juga terhalang bangunan Hi-Tech Mall.

“Sisi depan terhalang Hi-Tech Mall, maka pengunjung THR cenderung menurun,” sesal Junaedi.  Junaedi menegaskan, THR memiliki peran penting dalam pengambangan budaya tradisional. Di tempat itu, dulunya merupakan cikal bakal berdirinya paguyuban lawak yang melegenda “Srimulat”. Yang dikhawatirkan banyak pihak, jika tak ada upaya pembenahan, maka THR akan mati selamanya. “Gedungnya ada, tapi tak ada penghuninya,” jelas dia.

Menurut politikus Partai Demokrat ini, kalangan dewan siap men-support pengembangan kesenian tradisional di THR. Salah satunya dengan mendorong proses revitalisasi dan  sosilaisasi yang gencar, sehingga menarik minat masyarakat untuk mengunjunginya lagi.

“Pembenahan bisa dengan merenovasi, menata SDM-nya, kemudian mencari sponsornya,” tambah Junaedi.  Diakuinya, tantangan yang dihadapi untuk menghidupkan kesenian tradisional adalah budaya asing yang berkembang di era globalisasi. Namun dia optimis, apabila Dinas kebudayan dan Pariwisata Kota Surabaya bisa bekerjasama dengan Dinas Pendidikan untuk meramaikannya, maka THR bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pentas seni kalangan pelajar. “Lomba yang diikuti para pelajar, bisa digelar di tempat itu. Ini salah satu cara untuk meramaikan THR,” usul Junaedi.

Selain itu perlu juga melibatkan perangkat kecamatan dan kelurahan untuk mempromosikan kegiatan di THR. Sosialisasi dari tingkat aparat tersebut, sangat efektif untuk sampai ke masyarakat. “Kalau bisa kita berikan beberap tiket free untuk mereka,” harapnya.

Junaedi mengatakan, selama ini para pengunujung yang masuk area THR memang dikenai retribusi. Meski tidak mahal, namun pengenaan retribusi tersebut bertujuan untuk mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sayangnya, hingga kini pemkot belum mempunyai sentuhan untuk memajukan kesenian tradisional, terutama di THR. Pemkot bisa mencontoh provinsi yang berhasil menghidpkan kegiatan seni dan budaya di Taman Budaya milik provinsi, gedung Cak Durasim. (windhi/by)