Parkir Insidentil Jl Rajawali Harus Ditertibkan

Rabu, 02 Sep 2015 | 08.00 WIB

Parkir Insidentil Jl Rajawali Harus Ditertibkan

Parkir liar di salah satu sudut jalanan (dokANTARA)


CENTROONE.COM - Ada banyak cara atau siasat mendirikan lahan parkir. Salah satunya dengan memasang tulisan ‘parkir insidentil’ pada lahan tertentu. Hal ini pun menjadi perhatian Komisi B DPRD Surabaya dan meminta Dinas Perhubungan untuk menertibkan parkir tepi jalan umum yang insidentil.

Salah satu parkir itu ada di Jl Rajawali atau di depan gedung PTPN XII. Parkir itu jelas melanggar Perda dan diduga tak berizin. Di kawasan itu termasuk wilayah padat kendaraan.

Di kawasan itu dimanfaatkan untuk menyelenggarakan parkir tepi jalan. Bahkan keberadaannya memakan badan jalan karena menggunakan dua lajur. Agar tak ditertipkan, parkir yang berlangsung sejak pagi sampai malam dan sudah bertahun-tahun menggunakan keampuhan tulisan insidentil.

Padahal insidentil sifatnya mendadak atau darurat, buka untuk setiap hari dan telah terselenggara bertahun-tahun. Rata-rata yang parkir di tempat itu adalah kendaraan milik PTPN XII dan banyak terdapat juru parkir dengan seragam resmi yang dikeluarkan Pemkot Surabaya.

Menurut anggota Komisi B Ahmad Zakaria, parkir insidentil itu bisa diselenggarakan, asalkan memenuhi beberapa unsur yakni tidak permanen, karena suatu kepentingan atau keramaian. “Sesuai Perda 8/2013 pasal 1 ayat (9), tempat parkir insidentil adalah tempat parkir tepi jalan umum yang diselenggarakan oleh Pemda secara tidak tetap atau tidak permanen, karena adanya suatu kepentingan atau keramaian,” jelas Zakaria.

Begitu juga dengan tarif parkir umum dan insidentil, berbeda. Biasaya parkir insidentil tarifnya lebih mahal.

Bagi Zakarian, parkir di tempat itu hanya berdalih insidentil. Pasalnya, penyelenggaraan parkir itu sudah bertahun-tahun dan dilaksanakan sejak pagi sampai malam. “Ini ada oknum yang memainkannya. Insidentil itu tak tiap hari dan tidak permanen, kalau yang di Jl Rajawali berbeda,” tandas Zakaria yang meminta segera menertibkan parkir itu. Ini justru bentuk kebocoran parkir hanya untuk meraup pendapatan sendiri. Pemkot harus mengusutnya, jangan dibiarkan saja. Kalau dibiarkan, kata Zakaria, jelas ada permainan.  (Windhi/by)