Hitung Kerugian Negara, Polda Metro Jaya Gandeng BPK

Rabu, 05 Ags 2015 | 22.00 WIB

Hitung Kerugian Negara, Polda Metro Jaya Gandeng BPK

Bongkar muat barang di pelabuhan Tanjung Priok (ANTARA)


CENTROONE.COM - Polda Metro Jaya belum dapat menyampaikan kerugian negara dalam kasus dwelling time. Pasalnya, penyidik saat ini masih fokus pada unsur penyuapan.

"Kerugian negara belum bisa disampaikan, ini kan baru tahap awal menetapkan tersangka untuk suap," kata Kabid Humas Polda Metro jaya Kombes M Iqbal saat dikonfirmasi, Rabu (5/8/2015).

Pun demikian, penyidik bakal menggandeng Badan pemeriksa Keuangan (BPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait perhitungan jumlah kerugian negara tersebut. "Pasti kita gandeng BPK," ucap dia. Dikatakan Iqbal, saat ini pihaknya tengah fokus melakukan pemeriksaan saksi-saksi yang dianggap mengetahui kasus tersebut. "Dua hari lalu kita sudah memanggil lima tersangka. Hari ini atau besok saksi diperiksa," terang Iqbal.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Kasubdit Tipikor Dit Reskrimsus) Polda Metro Jaya AKBP Ajie Indra mengungkapkan bahwa praktek suap yang dilakukan para tersangka dilakukan untuk merubah kuota barang impor. Hal itu diduga dilakukan oleh tersangka L, yang menyuap Partogi untuk menaikkan kuota imprort garam melebihi larangan pembatasan (lartas). "Dia (L) mengubah kuota impor yang tidak sesuai rekomendasi izin," tutur Adjie.

Berdasarkan keterangan tersangka uang suap untuk mengurus Surat Persetujuan Impor (SPI) mencapai Rp 500 jura. Tersangka M yang merupakan pekerja harian lepas (PHL) M berperan sebagai oknum yang mengurus permohonan izin impor barang dan diduga sebagai penampung uang suap importir bagi pejabat Ditjen Daglu.

Selain tersangka L dan M, penyidik menetapkan tiga tersangka lainnya yaitu mantan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan RI Partogi Pangaribuan dan Kepala Subdirektorat Barang Modal Bukan Impor Ditjen Daglu Kementerian Perdagangan RI Imam Aryanta serta seorang importir berinisial MU.

oleh:Rangga T-editor:YL.antamaputra