Dokter Tak Paham Surat Rujukan, Pasien Pun Terlantar

Minggu, 30 Ags 2015 | 07.25 WIB

Dokter Tak Paham Surat Rujukan, Pasien Pun Terlantar


CENTROONE.COM - Masih saja ada oknum dokter di Puskesmas di Surabaya yang tak paham tentang pelayanan BPJS atau KIS (Kartu Indenesia Sehat). Seharusnya, untuk merujuk pasien ke sebuah rumah sakit, tentunya pasien itu harus melalui pelayanan dasar, yakni di Puskesmas. Dari surat rujukan Puskesmas itulah pasien bisa melanjutkan pengobatannya ke rumah sakit.

Kenyataannya, saat ada pasien berobat ke Puskesmas, rujukan tak diberikan dan pasien diminta langsung berobat ke sebuah rumah sakit. Tentu saja, di rumah sakit, penggunaan kartu BPJS atau KIS ditolak, karena tak ada surat rujukan dari rumah sakit. Hasilnya, pasien pun harus bolak balik mengurus surat rujukan tersebut.

Inilah yang terjadi pada pasien dengan tangan patah tulang terbuka, Rohman (10). Sejak kejadian pada Selasa (25/8/2015) sore, orang tua Rohman hanya membawa anaknya ke tukang pijat. Namun karena kondisi lengan pasien tetap bengkak, Rabu (26/8/2015), Rohman dibawa ke Puskesmas Menur Pumpungan. Karena KIS yang digunakan didapat dari SDN yang masuk wilayah Keputih, maka yang bersangkutan hanya bisa menggunakannya di Puskesmas Keputih.

“Saat itu saya periksakan ke Puskesmas, untuk bisa obat nyeri karena saya kira lengan anak saya hanya bengkak biasa. Namun dokter setempat tak berani memberi obat karena harus tahu kondisi sakit itu ada di tulang atau di dagingnya saja. Lalu saya diminta langsung rontgen ke RS Haji sesuai pilihan saya. Tapi saya tak diberi rujukan dan diminta untuk langsung ke RS itu dengan menunjukan kartu (KIS, red). Kamisnya, di RS Haji saya ditolak, karena tak membawa surat rujukan dari Puskesmas. Saya hari itu juga minta surat rujukan ke dokter di Puskesmas, barulah dokter itu tahu tentang surat rujukan tersebut,” ujar Asniah, ibu kandung Rohman.  

Setelah mendapat surat rujukan, Asniah kembali ke RS Haji, namun ditolak. Karena surat rujukan itu berlaku di RSUD milik Asniah kembali ke RS Haji, namun ditolak. Surat rujukan itu berlaku di RSUD milik pemkot, yakni RSUD dr M Soewandhie. Jumat (28/8/2015), Rohman pun menjalani rontgen sore hari karena antreannya panjang. Sayangnya di tempat itu, sore hari doctor ortopedi sudah pulang. Dan dari situ pula di ketahui jika lengan tangan kiri Rohman, patah.

Namun Rohman diberi jadwal untuk periksa ke dokter tersebut pada Senin (31/8/2015). Sampai saat ini, Rohman harus menahan nyeri pada tangannya. Dari kejadian ini, masalah penanganan BPJS atau KIS, masih belum dipahami oleh petugas medis di tingkat dasar, dalam hal ini Puskesmas.

Wakil Ketua DPRD Surabaya H Darmawan meminta agar masalah BPJS atau KIS, harus benar-benar dipahami. Sehingga penanganan awal pasien tak harus menunggu lama karena disibukan dengan mengurus surat menyuratnya.  (Windhi/by)