KPK Didesak Telisik Dugaan Korupsi Proyek UPS BPAD DKI Jakarta

Jumat, 21 Ags 2015 | 21.00 WIB

KPK Didesak Telisik Dugaan Korupsi Proyek UPS BPAD DKI Jakarta


CENTROONE.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didesak menelisik kasus dugaan korupsi proyek pengadaan Uninterruptible Power Supply (UPS) di Badan Perpustakan dan Arsip Daerah (BPAD) DKI Jakarta. Pasalnya, disinyalir ada mark up dalam proyek tersebut.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif LSM Suara Jakartaku, Ardian Chaniago usai melaporkan dugaan korupsi itu ke KPK, Jumat (21/8/2015). Selain melaporkan, Surara Jakartaku juga menggelar aksi demonstrasi. Uniknya aksi tersebut dipadu dengan pagelaran Tarian Kesenian Jakarta yakni ondel-ondel dan musik-musik khas daerah Betawi. "Di Badan Perpustakaan dan Arsip itu, pengadaan UPS sempat diplot dalam 3 paket. Tetapi yang terealisir hanya 1 paket UPS," ungkap Adrian.

Dikatakan Adrian, dalam laporan BPK disebutkan kalau proyek pengadaan UPS di BPAD DKI telah menyalahi aturan. Dari hasil laporan itu, disebutkan ada indikasi murk up harga pengadaan UPS di BPAD, Suku Dinas (Sudin) Pendidikan Menengah Jakarta Barat dan Sudin Pendidikan Menengah Jakarta Selatan sebesar Rp 163,8 miliar.

Padahal, pengadaan UPS di dua instansi itu sama persis, baik jenis dan
besar anggarannya seperti yang diadakan Badan Perpusatakaan dan Arsip Daerah Pemda DKI Jakarta tahun 2014 dengan Harga Perhitungan Sendiri (HPS) Rp 5.974.760.000. Namun, sampai saat ini kasus tersebut belum juga ditelisik Mabes Polri."Hingga kini pengadaan UPS di badan itu sama sekali belum pernah disentuh oleh aparat hukum," beber dia.

Ardian mengklaim laporan didukung oleh sejumlah bukti dan fakta. Bukti-bukti yang telah diserahkan itu diyakini dapat membantu KPK mengungkap dan menelisik kasus tersebut."Harapan kami, KPK tidak kalah cepat berbanding Polri," tandas Ardian.

Sementara itu, Kepala Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha memastikan jika pihaknya akan menindaklanjut setiap laporan yang masuk. "Setiap laporan yang masuk ke KPK, akan kami pelajari dan telaah lebih dulu untuk menindaklanjut laporan tersebut," kata Priharsa.
 
Editor:YL.antamaputra