Direktur PT Bursa Berjangka Jakarta Moch Bihar Sakti Wibowo Dituntut 4 Tahun Penjara

Senin, 27 Jul 2015 | 15.56 WIB

Direktur PT Bursa Berjangka Jakarta Moch Bihar Sakti Wibowo Dituntut 4 Tahun Penjara

Moch Bihar Sakti Wibowo (foto : ist)


Centroone.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut mantan Direktur PT Bursa Berjangka Jakarta (PT BBJ) Moch Bihar Sakti Wibowo dengan hukuman 4 tahun penjara. Binhar juga dituntut denda Rp 200 juta subsidair 6 bulan kurungan.
"Menuntut supaya hakim yang menangani perkara ini mengadili dan menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama empat tahun di kurangi selama terdakwa menjalani hukuman," ucap Jaksa KPK, Haerudin saat membacakan surat tuntutan terhadap terdakwa Binhar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (27/7/2015).
Jaksa meyakini Bihar ikut terlibat menyuap Syahrul Raja Sempurnajaya saat menjabat Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Rp 7 miliar. Suap itu untuk mempermulus pemberian izin usaha lembaga kliring berjangka PT Indokliring Internasional.
"Menuntut supaya Majelis Hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," terang jaksa Haerudin.
Dalam tuntutannya, Jaksa menerangkan hal-ha yang meringankan dan memberatkan. Untuk hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa dinilai tidak mendukung upaya pemerintah yang tengah giat-giatnya melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi.
"Terdakwa selama dalam persidangan bersikap sopan, mengakui, menyesali perbuatannya, serta terdakwa belum pernah dihukum," jelas Jaksa menerangkan hal-hal yang meringankan.
Dalam analisa yuridis Jaksa KPK, terungkap bahwa suap ini bermula adanya kebutuhan dari PT BBJ mendapatkan izin usaha pendirian lembaga kliring berjangka sendiri PT Indokliring Internasional dari Bappebti.
Suap ini bermula dari kebutuhan PT BBJ mendapatkan izin usaha pendirian lembaga kliring berjangka sendiri PT Indokliring Internasional dari Bappebti.
Syahrul Raja atas rencana pendirian PT Indokliring Internasional itu disebut meminta saham sebanyak 10 persen atau senilai Rp 10 miliar dari modal awal yakni Rp 100 miliar. Dimana modal awal itu untuk pendirian lembaga kliring berjangka.
Kemudian permintaan itu disampaikan kepada Moch. Bihar Sakti Wibowo dan mantan Direktur Kliring Berjangka Indonesia Surdiyanto Suryodarmojo. Kemudian permintaan itu diteruskan ke direksi pada Juli 2012.
Pada 10 Juli 2012 permintaan saham oleh Syahrul kembali disampaikan dalam rapat antara dewan komisaris dengan direksi PT BBJ. Direktur Keuangan PT BBJ Roy Sembel atas permintaan itu kemudian mengusulkan agar diberikan dalam bentuk uang tunai tidak dalam bentuk saham.
Sedangkan pada rapat umum pemegang saham luar biasa PT BBJ, Komisaris BBJ Kristanto Nugroho juga menyampaikan adanya permintaan saham 10 persen atau senilai Rp 10 miliar dari Syahrul Raja, dan menanyakan bagaimana mekanisme pengeluaran dana pra operasional tersebut.
"Hendra Gondawijaja mengatakan kita semua mengertilah adanya kebutuhan dana untuk mendapatkan suatu perizinan memang perlu suatu perlobian dan dari jajaran kita yang ada disini yang saya anggap paling bisa menembus dan ngomong lobi ke sana (Bappepti) adalah Hassan Widjaja," tutur Jaksa.
Sherman Rana setelah terbentuknya lembaga kliring berjangka PT Indokliring Internasional pada 27 Juli 2012 kemudian menelepon Hassan Widjaja. Dalam komunikasi itu Sherman mengingatkan agar segera menemui Syahrul Raja untuk melakukan klarifikasi dan negosiasi mengenai permintaan saham sebesa 10 persen atau senilai Rp 10 miliar.
Kemudian dilakukan pertemuan antara Hassan Widjaja dengan Syahrul Raja di kantor Bappebti di Kramat Raya, Jakpus pada Juli 2012 yang menyepakati pemberian uang tunai Rp 7 miliar. Untuk merealisasikan permintaan Syahrul, pada 1 Agustus 2012, Hassan Widjaja meminta Bihar Sakti Wibowo untuk menyiapkan uang Rp 7 miliar.
"Yang diambil dari modal awal PT Indokliring Internasional," tutur Jaksa.
Uang Rp 7 miliar yang sudah disiapkan terdiri dari USD 600 ribu dan Rp 1 miliar, lantas diserahkan oleh Bihar Sakti kepada Syahrul Raja di Cafe Lulu Kemang Arcade, Jaksel pada 2 Agustus 2012. Setelah uang diserahkan pada tanggal 3 Agustus 2012, Sherman Rana Khrisna selaku Komisaris Utama PT Indokliring Internasional bersama-sama dengan Direktur Utama PT Indokliring Internasional Hendra Gondawidjaja mengajukan permohonan izin usaha lembaga kliring berjangka ke Kepala Bappebti yang dijabat Syahrul Raja Sempurnajaya.
"Terdakwa Bihar Sakti Wibowo memberikan tas abu-abu strip biru berisi uang Rp 7 miliar kepada Syahrul Raja Sempurnajaya," ungkap Jaksa KPK.
 
Oleh : Rangga Tranggana / Editor : Adi Cahyo