Rapatkan Barisan, Cegah Insiden Tolikara Merembet

Kamis, 23 Jul 2015 | 07.00 WIB

Rapatkan Barisan, Cegah Insiden Tolikara Merembet

Walikota Tri Rismaharini saat melakukan pengarahan (WIndhi/Centroone)


CENTROONE.COM - Tak ingin konflik di daerah seperti kejadian di Tolikara, Papua berimbas sampai kota besar, maka Pemkot Surabaya pun membahas antisipasinya. Langkahnya dengan menggelar rapat koordinasi (Rakor) di Graha Sawunggaling pada hari pertama pasca libur lebaran, Rabu (22/7/2015).

Dalam Rakor itu dibahas tentang antisipasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Kota Pahlawan. Dalam rapat yang diikuti pejabat pemkot termasuk para camat dan lurah, juga mengundang jajaran samping meliputi kepolisian dan TNI. Turut hadir, Danrem 084 Bhaskara Jaya, Kapolrestabes Surabaya dan Kapolres Tanjung Perak.

Wali Kota Tri Rismaharini yang akrab disapa Risma menegaskan, tujuan diselenggarakannya rakor adalah untuk menjaga situasi Surabaya tetap kondusif. Utamanya setelah kejadian kerusuhan di Tolikara, Papua. Pasalnya, sudah terjadi tindakan perusakan di empat daerah di Indonesia. Rinciannya, dua kejadian di pulau Jawa dan dua lainnya di wilayah Sulawesi dan Ternate. Menurut laporan, peristiwa itu diduga imbas masyarakat yang terprovokasi atas kerusuhan di Tolikara.

“Saya berharap di Surabaya tidak ada kejadian seperti itu. Surabaya harus tetap aman dan kondusif sebab kota ini merupakan barometer keamanan nasional. Karena itu, wajib hukumnya menjaga persatuan bangsa ini,” kata Risma.

Risma menyatakan, rakor ini akan ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan antar tokoh lintas agama di level kecamatan. Harapannya, melalui pertemuan tersebut, para tokoh agama dapat memberikan penjelasan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.

Ditanya soal strategi pengamanan kota, Risma enggan berkomentar lebih jauh. “Saya tidak bisa jelaskan secara detail karena itu sudah ranahnya intel di kepolisian dan TNI. Yang jelas, di Surabaya tidak boleh ada gangguan kebebasan beribadah. Semua dijamin dan dilindungi,” terang wali kota.

Sementara itu Danrem 084 Bhaskara Jaya Kol Inf Nur Rahmad mengimbau masyarakat menyikapi kejadian di Tolikara dengan arif dan bijaksana. Menurut dia, yang terpenting saat ini adalah bagaimana menumbuhkan rasa nasionalisme sehingga negara ini bisa kokoh.

Nur Rahmad yang sempat bertugas di Sorong dan Manokwari ini lantas menceritakan bahwa sejatinya tidak ada masalah toleransi antar umat beragama di Papua. “Saat perayaan Natal, warga Muslim ikut membantu pelaksanaan. Begitu pula saat Idul Fitri, warga yang beragama Kristen ikut mengucapkan selamat dari rumah ke rumah,” ungkapnya.

Nur Rahmad menilai kerusuhan di Tolikara bukan merupakan konflik antara agama satu dan lainnya, sebab korban tidak hanya dari pihak beragama Muslim saja. Kios-kios milik warga Kristen juga turut hangus saat peristiwa pembakaran.

Lebih jauh, Nur Rahmad menekankan akan bahaya proxy war atau perang proksi. Konsep proxy war, kata Nur Rahmad, yakni perang dengan mengandalkan kepandaian. Strategi yang digunakan bisa saja politik adu domba atau dengan sengaja menciptakan kondisi yang memperkeruh suasana.

“Oleh karenanya, kita tidak perlu terpancing sebab di Tolikara sendiri, masalah sudah selesai. Bangunan masjid/mushola dan kios-kios yang terbakar juga sudah dibangun kembali,” imbuhnya.

Senada dengan Nur Rahmad, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah menambahkan, tujuan perang proksi adalah membentuk gelombang kejahatan baru. Guna mengantisipasi hal tersebut, Yan Fitri menegaskan pihaknya mengintensifkan patroli yang selama ini memang sudah rutin dilaksanakan.

Menurut dia, Surabaya perlu adanya pernyataan sikap bersama para tokoh lintas agama. Hal itu sebagai penegas bahwa di Surabaya sama sekali tidak ada masalah toleransi beragama. “Secara umum kondisi di Surabaya sangat kondusif dan kejahatan juga menurun. Intinya relatif aman. Sejauh ini tidak ada kejadian yang menonjol,” pungkas Yan Fitri.  

oleh:Windhi A-editor:YL.antamaputra