Jokowi: Saya Tidak Mau Dengar lagi Jaksa Jadikan Tersangka Sebagai "ATM"

Rabu, 22 Jul 2015 | 16.10 WIB

Jokowi: Saya Tidak Mau Dengar lagi Jaksa Jadikan Tersangka Sebagai

Presiden Joko Widodo (foto : ist)


Centroone.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) geram atas ulah sejumlah jaksa nakal yang memperdagangkan pekara, melakukan pemerasan, dan menjadikan tersangka sebagai mesin "Anjungan Tunai Mandiri (ATM)". Orang nomor wahid itu tak mau lagi mendengar hal tersebut.
"Jika mendengar ada aparat hukum melakukan pemerasan atau memperdagangkan perkara atau tuntutan, bahkan menjadikan tersangka sebagai 'ATM', saya tidak mau mendengar lagi hal tersebut," ungkap Jokowi dalam upacara peringatan Hari Bhakti Adhyaksa ke-55 di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2015).
Jokowi lantas memerintahkan jajaran Kejaksaan Agung agar meningkatkan pengawasan terhadap seluruh jaksa. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah perbuatan tersebut.
"Segera bertugas melakukan pengawasan, melakukan penilaian kinerja," tegas Jokowi.
Jokowi juga meminta jajaran Kejaksaan Agung mengevaluasi dan meningkatkan kinerja Korps Adhyaksa. Pasalnya, kinerja Kejagung terbilang belum menggembirakan dan sesuai harapan rakyat.
"Dengan langkah perbaikan yang dilakukan, kepercayaan masyarakat akan meningkat. Sosok jaksa akan makin bermartabat. Rakyat menaruh harapan besar akan penegak hukum yang memenuhi keadilan. Menjadi garda depan pemberantasan korupsi. Penegakan hukum yang tepat, yang efektif, untuk mendukung program pembangunan nasional," terang dia.
Terkait pemberantasan korupsi, Jokowi juga meminta Kejaksaan meningkatkan komunikasi, sinergi, dan kerjasama dengan Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) dan Polri. Pemberantasan korupsi, lanjut Jokowi, juga perlu diperluas dengan menggandeng PPATK, BPKP, dan kantor pajak.
"Harus saling bahu membahu, bukan saling berhadapan. Pemberantasan korupsi perlu diperluas dengan menggandeng PPATK, kantor pajak, BPKP. Kejaksaan dapat menjadi lembaga terpercaya, khususnya di bidang penegakan hukum," tandas Jokowi.
 
Oleh : Rangga Tranggana / Editor : Adi Cahyo