Budaya Agraris Aman Dari Dampak Buruk Industrialisasi

Selasa, 09 Jun 2015 | 17.00 WIB

Budaya Agraris Aman Dari Dampak Buruk Industrialisasi <br>

Hermawan Sulistio, jadi pembicara di seminar nasional. (WIndhi/Centroone)


CENTROONE.COM - Proses industrialisasi tidak serta-merta ikut merusak budaya masyarakat, termasuk budaya agraris yang menjadi mata pencarian sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun untuk bisa menjembatani antara kepentingan industrialisasi dan penjagaan keberlanjutan lingkungan serta budaya, antara pelaku industri dan masyarakat harus meningkatkan komunikasi dan sinergi.

Hal itu diungkapkan pengamat politik yang juga peneliti LIPI, Hermawan Sulistio, dalam seminar nasional tentang Industrialisasi dan Budaya Nusantara di Wisma Bahagia UIN Sunan Ampel Surabaya, industrialisasi yang saat ini berkembang adalah industri semen. “Polemik pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Sebagian masyarakat setempat menolak pendirian pabrik,” kata Hermawan.

Dia menjelaskan, ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap masalah itu. Pertama, melakukan pencerahan, yaitu menjelaskan tentang pembangunan pabrik ini terhadap masyarakat sekitar. Hal ini diharapkan supaya diperoleh informasi yang jelas berbagai pengaruh dengan adanya pabrik tersebut.   Kedua, masing-masing pihak, baik perusahaan maupun masyarakat diharapkan memberikan data, bahkan janji yang akan dilakukan. “Dan harus ada pihak yang mengawalnya. Misalnya tidak adanya perusakan lingkungan, penyerapan SDM sekitar, itu yang harus benar-benar dikawal dan diawasi,” ujarnya.

Ketiga, lanjut Hermawan, ada pihak yang menjelaskan tentang benchmark yang telah terjadi sebelumnya serta menunjukkan pengaruhnya. Misal saja, pada Semen Indonesia, harusnya mereka memberikan data atau suatu penjelasan menyeluruh sebelum, sedang dan sesudah adanya pabrik semen. Dia mengatakan, dampak pembangunan pabrik memang beragam. Seperti naiknya harga tanah di sekitar pabrik, bahkan bekas galian batu kapur untuk semen, sudah melejit dan menjadi kawasan premium untuk perumahan.

Hermawan mencontohkan modernisasi yang tak mengabaikan budaya. Sepeti keberadaan pasar tradisional di Kyoto, Jepang. Pasar itu berusia ratusan tahun dan masih berdiri diantara bangunan modern lainnya. Bahkan masyarakat di situ, diberi hak untuk memiliki atau masuk sebagai pegawainya. Hal itu membuktikan adanya hubungan harmonis bisnis dan masyarakat.

Menurut Hermawan, permasalahan yang terjadi dalam perbedaan pendapat perusahaan semen dan masyarakat masih dalam tataran hipotesis alias kesimpulan asumsi sementara. Pasalnya, belum bisa diukur efek mana yang terjadi, apakah efek yang baik atau buruk. Hal ini perlu dikomunikasikan pada kedua belah pihak. 



oleh:Windhi A-editor:YL.antamaputra