Bersaksi Untuk Novel, Seret Mantan Presiden dan 2 Mantan Kapolri

Jumat, 05 Jun 2015 | 02.00 WIB

Bersaksi Untuk Novel, Seret Mantan Presiden dan 2 Mantan Kapolri <br>

Abraham Samad (ANTARA)


CENTROONE.COM - Ketua KPK nonaktif Abraham Samad menyeret nama mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mantan Kapolri saat memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan gugatan praperadilan penyidik KPK, Novel Baswedan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (4/6/2015). Dua mantan Kapolri itu yakni, Timur Pradopo dan Sutarman.

Nama-nama itu disebut lantaran sebelumnya telah sepakat jika kasus penganiayaan yang diduga dilakukan Novel sudah diberhentikan. Dimana sebenarnya kasus itu sudah dihentikan SBY selaku Presiden RI keenam pada 2012. Ketegangan antara komisi antirasuah dan Korps Bhayangkara saat itu tak dapat dipungkiri. Terlebih saat itu KPK tengah menangani kasus korupsi Simulator SIM di Korlantas Polri.

Guna membahas persoalan itu, SBY saat itu memanggil pimpinan KPK Abraham Samad dan Polri, Jenderal Pol Timur Pradopo. Dari pertemuan itu, disepakati bahwa kasus Novel Baswedan murni diberhentikan. Sayangnya, penghentian kasus tanpa disertai bukti tertulis berupa Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). "Ketika itu Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  memerintahkan kepada pimpinan Polri untuk menghentikan kasus Novel karena dianggap tidak tepat timing-nya. Jadi itu intsruksi SBY kepada Pak Timur Pradopo," kata Abraham saat bersaksi.

Selang beberapa waktu, Timur digantikan Jenderal Pol Sutarman. Abraham kembali mempertegas status Novel. Selain itu Abraham juga menyampaikan rencana 27 personel Polri yang mengajukan pensiun dini dan berminat menjadi pegawai tetap KPK. "‚ÄéKenapa saya menanyakan lagi? Karena ada rencana 27 orang yang ingin mengajukan pensiun dini kepada institusi kepolisian dan memilih menjadi pegawai tetap KPK. 27 orang itu termasuk Novel Baswedan di dalamnya," ujar Abraham.

"Saya menanyakan kepada pak sutarman bagaimana posisi dan status Novel Baswedan di kepolisian? Saat itu Pak Tarman mengakui, keputusan yang diambil saat pak Timur itu jadi keputusan institusi bukan pribadi. Karena itu mereka menganggap perkara Novel itu sudah selesai," ditambahkan Abraham.

Seharusnya, tegas Abraham, perkara Novel sudah benar-benar selesai jika merujuk pada pernyataan SBY dan Kapolri Sutarman. Akan tetapi Abraham menyayangkan tidak adanya hitam di atas putih mengenai pemberhentian kasus. Alhasil kasus itu kembali diungkap Polri. "Memang sayangnya belum ada SP3 saat itu, sehingga dipersoalkan," tandas Abraham.

Sementara itu, Novel Baswedan mengaku optimis gugatan praperadilan yang ditempuh bakal menang. Apalagi, Novel telah menyiapkan sejumlah bukti yang dapat menguatkan kalau dirinya merupakan korban kriminalisasi oleh Polri. "Yang saya ajukan ini adalah praperadilan dalam konteks pasal 77, dan itu disebut dengan jelas. Saya kira cukup fokus dengan mekanisme yang lazim," kata Novel.

Dikatakan Novel, praperadilan yang diajukan guna menguji kinerja Polri terkait tindaklanjut sebuah perkara. Yakni apakah sesuai prosedur atau tidak. "Penangkapan surat perintahnya tidak diberikan kepada saya. Kemudian surat perintah juga tidak mencantumkan alasan. Ini sesuai UU, bisa dibaca di Pasal 18 ayat (1) KUHAP," terang Novel.

Sebelumnya, Novel ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri atas kasus dugaan penganiayaan pelaku pencurian sarang burung walet hingga tewas pada 2004. Novel saat itu menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Bengkulu. Saat dijerat tersangka, status Novel sebagai penyidik di komisi antirasuah.


oleh:Rangga T-editor:YL.antamaputra