Pesimis Pilwali Semarak, Calon Tak Bermunculan

Senin, 29 Jun 2015 | 21.58 WIB

Pesimis Pilwali Semarak, Calon Tak Bermunculan

foto: Lasiono, S.IP


Centroone.com - Pesimistis terhadap keramaian pesta demokrasi di Surabaya pada 9 Desember 2015, mulai bermunculan. Sebuah lembaga survei dan penelitian di Surabaya menganggap pesta itu bakal tak seru, alias minim diikuti pasangan calon. Ini layaknya pesta demokrasi Jatim 2014. Saat itu, warga sudah tahu jika pasangan petahana Pakde Karwo dan Gus Ipul bakal jadi pemenangnya.
Pada pesta di Surabaya ini, pasangan perseorangan sudah tak ada lagi peminatnya. Sampai tanggal penutupan pendaftaran, sama sekali tak ada warga yang mendaftarkan diri melalui jalur independen tersebut. Ini juga karena kelalaian KPU Kota Surabaya yang tak mensosialisasikannya langsung ke lapangan, melainkan hanya mengandalkan media massa.
Disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Penelitian SONAR MEDIA CONSULTANT (SMC) Lasiono S.IP menilai, kondisi ini adalah gelagat sakitnya demokrasi di Kota Surabaya. Tidak adanya calon perseorangan yang mendaftar, menandakan Surabaya telah gagal mencetak pemimpin untuk kotanya sendiri.
"Bahkan, kalau kita lihat dari seluruh Indonesia pun tidak ada yang berminat mendaftar lewat jalur perseorangan. Ini artinya Surabaya tidak memiliki daya tarik bagi warga bangsa untuk melakukan pengabdian lewat jalur politik," ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Lasio ini mengatakan, Pilkada adalah momentum masa depan demokrasi di Kota Surabaya yang seharusnya menjadi pesta demokrasi untuk masyarakat Surabaya. Namun situasi saat ini berbeda, dimana para calon selain petahana justru tidak muncul. Begitu juga dari partai politik, masih sepi peminat.
"Hal ini membahayakan masa depan demokrasi. Karena sejatinya partai-partai politik telah gagal melahirkan tokoh-tokoh baru yang baik untuk menjadi pemimpin Kota Surabaya. Partai politik dan organisasi politik lainnya sebagai pilar demokrasi mestinya berfungsi melakukan kaderisasi politik. Maka jika fungsi ini mati, ini adalah cermin kegagalan demokrasi di Surabaya," tanggapnya.   
Dirinya mencermati, beberapa orang yang hingga kini muncul masih belum menunjukkan keseriusan dan belum menjadi representasi dari konfigurasi kekuatan politik yang ada. "Tidak muncul figur populis dari parpol yang bisa dijadikan alternatif oleh warga kota. Padahal warga kota berhak mendapat pilihan yang terbaik. Parpol tidak percaya diri terhadap kader-kader yang dimilikinya hingga harus mencari figur lain, atau merapat pada petahana," tegasnya.
Hal Ini membuat kepercayaan rakyat terhadap parpol semakin menurun. Sehingga, rakyat semakin tidak berminat kepada partai-partai yang ada. Setidaknya, koalisi berbasis platform tersebut telah memiliki syarat yang cukup untuk mengusung figur masing-masing. Namun sepertinya konsolidasi partai-partai ini berjalan lamban, sehingga tanpa terasa telah mengancam iklim demokrasi dengan gagalnya pemunculan bakal calon kepala daerah.
 
Oleh : Windhi Ariesman / Editor : Adi Cahyo