Grand Final Cak dan Ning Surabaya Tetap Digelar 1 Juni

Senin, 01 Jun 2015 | 07.48 WIB

<strong>Grand Final Cak dan Ning Surabaya Tetap Digelar 1 Juni</strong>

Ilustrasi Cak dan Ning Suroboyo (foto : ist)


Centroone.com - Setelah sempat dikabarkan jika malam Grand Final Cak dan Ning Surabaya 2015 diundur, kini kepastian acara itu digelar 1 Juni 2015, sudah bisa dipastikan. Kepastian acara itu tak diundur, dapat dukungan dari Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana.

Acara dengan tema The Rise of Sawunggaling ini, sebelumnya sudah terlanjur menyebar undangan pelaksanaannya pada 1 Juni. Namun ada kabar jika pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengundur acara Grand Final yang bakal digelar di Sutos pada 7 Juni 2015.

Padahal untuk persiapan malam Grand Final itu, Paguyuban Cak dan Ning Surabaya harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp100 juta, dimana pemkot hanya menyumbang Rp45 juta saja. Jika benar diundur, maka pihak panitia akan rugi besar.

Grand Final itu memang sengaja digelar tepat dengan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni. Wakil wali kota Surabaya, memerjuangkan agar acara itu tetap digelar pada 1 Juni. Sebab, Cak dan Ning merupakan duta budaya Surabaya dan perannya juga sangat penting untuk membawa nama baik Surabaya.

Menurut Whisnu Sakti, perhelatan tersebut tidak saja sebagai sebuah pelestarian budaya, melainkan sebuah identitas Ideologis dari kelanjutan generasi muda untuk melestarikan sejarah dan pengenalan budaya Kota Pahlawan. “Saya hanya berfikir simpel. Kalau agenda ini (Pemilihan Cak dan Ning, Red) diadakan dua tahun sekali berarti Surabaya melepas identitasnya,” kata Wisnu Sakti, Minggu (31/5/2015).

Dijelaskan Whisnu Sakti, negara itu berdiri di atas identitas budaya masing-masing daerah. Jika di undur atau dihapus sekalipun, menurutnya, sama halnya dengan Surabaya tak memiliki jati diri.

Minggu adalah hari terakhir masa karantina para finalis pasangan duta budaya Surabaya, sebelum akhirnya menjalani malam pemilihan. ”Tidak hanya sekedar sebuah penilaian. Namun, ada sebuah upaya membangkitkan semangat generasi muda melestarikan budaya Surabaya,” tambah Whisnu Sakti.

Terkait kepastian pergelaran Grand Final 1 Juni, Whisnu Sakti sempat memberikan motivasi dihadapan 15 pasangan finalis Cak dan Ning Surabaya, di Gedung Dewakang, Komplek AAL Bumimoro Krembangan. Whisnu Sakti menegaskan, dirinya siap berkoordinasi dengan DPRD Surabaya untuk patungan, jika pemkot tiap tahunnya tak menganggarkan perhelatan duta budaya tersebut.

Penganggaran dari upaya patungan itu tentu saja untuk memastikan Grand Final Cak dan Ning agar terus dihelat bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila. Menurut dia, ada makna tertanam dalam pemilihan Cak dan Ning Surabaya. Khususnya semangat penyelenggaraan, dinilai betul-betul menjadi sebuah momen untuk membangun dan menampilkan wajah Surabaya ke luar daerah maupun internasional.

“Kita harus melesatarikan budaya Surabaya dan karakter masyarakat, jika nilai-nilai budaya dan karaker hilang, tentunya sangat merugikan bangsa dan negara,” tegasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya Wiwik Widayati sempat membantah kabar pengunduran jadwal tersebut. Dia meyakini jika Grand Final Cak dan Ning tetap digelar 1 Juni.


Oleh : Windhi Ariesman / Editor : Adi Cahyo