Jokowi: Perjuangan Negara Asia-Afrika Belum Selesai

Kamis, 23 Apr 2015 | 12.38 WIB

Jokowi: Perjuangan Negara Asia-Afrika Belum Selesai

Presiden Joko Widodo duduk diapit Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam pembukaan sidang Konferensi Asia Afrika 2015, Rabu (22/4/2015).


Centroone.com - Presiden Joko Widodo menumbuhkan kembali semangat perjuangan yang dirintis pada 60 tahun yang lalu. Dia menyebutkan, perjuangan itu belum selesai karena saat ini negara-negara Asia Afrika masih menghadapi sejumlah tantangan.

"Pada 60 tahun lalu, bapak bangsa kami, Presiden Soekarno, Bung Karno cetuskan gagasan tersebut demi bangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk mendapatkan hak hidup sebagai bangsa merdeka yang menolak ketidakadilan, yang menentang segala bentuk imperialisme," kata Jokowi dalam pidato pembukaan sidang Konferensi Asia Afrika di Jakarta, Rabu (22/4/2015).

Jokowi menyebutkan, pada 60 tahun lalu solidaritas Asia dan Afrika sudah mengumandangkan perjuangan dan kemerdekaan serta menciptakan kesejahteraan dan keadilan. Kini, Jokowi menyebutkan negara Asia-Afrika dihadapkan pada situasi dunia yang berbeda.

"Bangsa-bangsa terjajah telah merdeka dan berdaulat. Namun, perjuangan kita belum selesai!" kata dia.

Menurut Jokowi, dunia yang terjadi sekarang sarat dengan ketidakadilan, kesenjangan, dan kekerasan global.

"Cita-cita bersama mengenai berartinya sebuah peradaban baru, sebuah tatanan dunia baru, yang berdasarkan keadilan, kesetaraan dan kemakmuran masih jauh dari harapan. Ketidakadilan dan ketidakseimbangan global masih terpampang gamblang di hadapan kita," ucap Jokowi.

Hadir dalam pembukaan sidang KAA kali ini adalah 21 kepala negara dan kepala pemerintahan.

Mereka di antaranya Presiden Tiongkok Xi Jinping, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Presiden Kamboja Hun Sen, Raja Swaziland Mswati III, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, dan Raja Yordania Abdullah II.

Sidang KAA 2015 ini akan berlangsung hingga Kamis (23/4/2015 ). Sidang tingkat pemimpin negara itu akan merumuskan keputusan dari hasil sidang-sidang yang dilakukan sebelumnya di level menteri dan kamar dagang.