Membangun Budaya Anti Korupsi Lewat Dongeng

Kamis, 31 Des 2015 | 15.00 WIB

Membangun Budaya Anti Korupsi Lewat Dongeng

Almarhum Pak Raden saat tengah mendongeng di depan anak-anak (dok Centroone)


Centroone.com - Melihat peran penting dongeng dalam proses pendidikan anak, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan diskusi hasil penelitian “Dongeng dalam Membentuk Identitas dan Memori Kolektif Bangsa.” beberapa waktu lalu. 

Berkaitan dengan nilai moral dan pendidikan karakter, salah satu cerita yang dibahas dalam diskusi hasil penelitian ini adalah cerita kancil yang sering dipandang berkait erat dengan maraknya korupsi di Indonesia saat ini. Dalam sejarah, versi tertua dari dongeng kancil diketahui ditulis oleh Kyai Rangga Amongsastra, yang menulis Serat Kantjil Amongsastra pada tahun 1822 di jaman Pakubuwono V di Kasunanan Solo.

Dongeng mengenai kancil selanjutnya mempunyai beragam versi seperti kancil dan buaya, kancil dengan kura-kura, kancil dengan monyet dan banyak lainnya menjadi fabel yang paling populer di masyarakat yang menyebar hingga Kalimantan dan Sulawesi.

Saking populernya kisah tentang Kancil, sampai-sampai ia juga diterjemahkan dari bahasa Jawa ke bahasa Melayu oleh F. L. Winter pada tahun 1881 dengan judul Lotgevallen van den Kantjil in het Maleisch–Riwajat dengan segala perihal dari pada Kantjil. Selanjutnya, pemerintah kolonial pada tahun 1896 menerbitkan buku Indische Kinderboeken yang merupakan cikal bakal dari banyaknya buku cerita anak yang beredar di seluruh Indonesia saat ini. Demikian diungkapkan Tim Pokja Penelitian, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang, Kemdikbud dalam rilis yang diterima Centroone.com.

Kebijakan pemerintah kolonial dalam usaha membangun karakter bumiputera dengan cara menerbitkan dongeng-dongeng yang dibuat oleh penduduk asli (pribumi) disinyalir sebagai bagian dari upaya meneguhkan kolonialisme. Semisal Cerita Kancil Mencuri Timun seolah terkesan menghibur, namun bila dikaji lebih jauh dapat berdampak negatif bagi anak-anak.

Untuk itu, diperlukan interpretasi ulang terhadap dongeng kancil yang ada, dengan memasukkan nilai-nilai kejujuran, mengajarkan bahwa mencuri adalah tindakan tidak terpuji. Dengan demikian, nilai-nilai anti korupsi dapat diajarkan sejak dini kepada anak-anak dalam upaya membangun karakter mereka. by