Museum Jadi Ujung Tombak Pelestarian Dongeng

Kamis, 31 Des 2015 | 13.00 WIB

Museum Jadi Ujung Tombak Pelestarian Dongeng

Seorang wisatawan melihat wayang di museum Radya Pustaka, Solo (dok Centroone)


Centroone.com - Eksistensi dongeng mengalami tantangan besar di Indonesia. Kemajuan teknologi informasi membawa arus globalisasi yang menggerus tradisi lisan diberbagai penjuru nusantara.

Dongeng kalah saing dengan cerita-cerita rakyat yang berasal dari negara-negara lain yang telah ditarnsformasikan ke media digital. Sebagai warisan budaya tak benda (intangible heritage) yang miliki nilai-nilai luhur bangsa dongeng perlu didokumentasikan dan dilestarikan.

Melihat peran penting dongeng dalam proses pendidikan anak, maka  Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan baru-baru ini mengadakan diskusi hasil penelitian “Dongeng dalam Membentuk Identitas dan Memori Kolektif Bangsa.”

Diungkapkan Tim Pokja Penelitian, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang, Kemdikbud dalam rilis yang diterima Centroone.com dalam diskusi ini dibahas bagaimana penting memberikan rumusan mengenai kebijakan pelestarian dongeng sebagai upaya merawat memori kolektif bangsa.

Melihat pentingnya dongeng dalam membangun identitas dan memori kolektif bangsa, maka upaya yang dapat dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan adalah dengan mendirikan Museum Dongeng Nusantara.

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, museum bisa mengambil bentuk museum virtual maupun terintegrasi dengan taman budaya yang ada di masing-masing provinsi. Pendirian museum dongeng dapat menjadi media transformasi nilai budaya yang efektif bagi pelestarian dan merawat memori kolektif serta identitas bangsa.  

Selain itu, alternatif lainnya, Kemdikbud juga dapat menggiatkan gerakan living museum di semua daerah dengan mengajak partisipasi dan pelibatan publik di dalamnya. Dalam menggiatkan living museum, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, mengajak berbagai kegiatan komunitas untuk menghadirkan masa lalu sebagai bagian dalam upaya melawan lupa. Kedua, menempatkan living museum sebagai tujuan edukasi dan transmisi pengetahuan kepada khalayak.

Ketiga, perlunya pemerintah menjembatani kerjasama dari berbagai pihak secara multidisiplin ilmu maupun profesi untuk mengembangkan kegiatan untuk menghadirkan masa lalu tersebut yang lebih kreatif dan bisa dimanfaatkan untuk ke depan. by