Penampilan Risma-Whisnu di Debat Publik Hanya Puaskan Tim Kampanye

Sabtu, 31 Okt 2015 | 22.00 WIB

Penampilan Risma-Whisnu di Debat Publik Hanya Puaskan Tim Kampanye

Calon Walikota Tri Rismaharini (Centroone)


CENTROONE.COM - Penampilan perdana pasangan calon wali kota dan wakil wali kota, Tri Rismaharini – Whisnu Sakti Buana, dianggap Tim Kampanyenya memuaskan. Hal ini karena pasangan itu dianggap sangat menguasai materi yang disuguhkan.

Pasangan nomor urut 2 ini pada Jumat (30/10/2015) malam hadir mengikuti debat publik bersama pasangan nomor urut 1, Rasiyo-Lucy Kurniasai yang digelar KPU Kota Surabaya. Komunikasi visual pasangan yang diusung PDI Perjuangan di Pilwali Surabaya 2015 ini juga dinilai sudah berjalan baik.

"Kekompakan Bu Risma dengan Mas Whisnu terbangun bagus. Data yang disajikan lengkap, meski dirasakan fokus masih terlalu membahas sektor pendidikan dan belum menonjolkan keberhasilan di banyak bidang lainnya. Tapi overall sudah sangat bagus," kata Didik Prasetiyono, juru bicara Tim Kampanye Risma-Whisnu, Sabtu (31/10/2015).

Menyikapi data tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang disampaikan pasangan Rasiyo-Lucy, pihaknya menyarankan untuk dilakukan pembacaan data secara utuh dan tidak sepotong-sepotong. "Sekilas angka TPT yang 5 persenmembuat kita bertanya, apakah itu berarti suatu gambaran buruk dari kondisi ekonomi sebuah wilayah. Namun, sebenarnya angka TPT yang relatif lebih tinggi itu sangat umum dijumpai di kota-kota besar," ujar Didik.

TPT, urainya, adalah persentase penganggur dari seluruh angkatan kerja (di atas 15 tahun, tidak termasuk ibu rumah tangga). Menurutnya, hal itu harus dibaca utuh, karena konsep "bekerja" yang digunakan BPS adalah minimal bekerja selama 1 jam selama 1 minggu berturut-turut.

Tentang gini ratio yang diungkap pasangan Rasiyo-Lucy berulang-kali, untuk menjadi catatan Kota Surabaya telah berhasil menjadi salah satu kota metropolitan yang paling mencolok perkembangannya.

Menurut Didik, penguatan birokrasi, kemudahan perizinan, dan kepercayaan dunia usaha telah membuat Kota Surabaya menjadi sentra bisnis yang paling menjanjikan dalam sepuluh tahun terakhir. Kondisi ini yang berdampak pada transisi sektor-sektor yang menjadi penggerak ekonomi Surabaya.

Sebagai konsekuensi metropolitan, paparnya, sektor pertanian dan perkebunan semakin sempit, berganti dengan industri, dan untuk kemudian saat ini trend-nya bergeser ke sektor perdagangan dan jasa.

"Jadi sekalipun terdapat fakta di Surabaya "kelas berpenghasilan tinggi" meningkat, namun jika diakumulasi dan dibandingkan dengan seluruh penghasilan penduduk di Provinsi Jatim maka tak berarti apa-apa," ujar anggota Kompartemen UMKM Kadin Jawa Timur periode 2009-2013 ini.

Membaca gini ratio tentunya harus secara utuh membahas data PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) untuk membandingkan konsentrasi pertumbuhan beberapa tahun terakhir.  PDRB per kapita Kota Surabaya meningkat dari hampir dua kali lipat dari 353,47 (data BPS 2009) menjadi 602,54 (data BPS 2014).

Makna data dibaca utuh, imbuhnya, untuk mengetahui secara komprehensif bahwa pertumbuhan yang dilakukan selama lima tahun terakhir adalah dibarengi juga dengan pemerataan yang juga tentunya melibatkan pembangunan infrastruktur daerah pinggiran kota. (windhiby)