Ini 3 Sebab Kampanye Hitam Muncul di Pilkada

Kamis, 29 Okt 2015 | 12.00 WIB

Ini 3 Sebab Kampanye Hitam Muncul di Pilkada

Para pembicara diskusi (Komunikonten)


CENTROONE.COM - Tim media sosial adalah elemen penting untuk memenangkan pemilihan kepada daerah (Pilkada) serentak pada Desember 2015 ini. Oleh karenanya, tim media sosial calon kepala daerah harus memahami apa yang tidak boleh dilakukan di media sosial, seperti fitnah dan kampanye hitam. Hal ini dibahas serius dalam diskusi “Peran Media Sosial dalam Menyukseskan Pilkada Serentak yang Damai dan Berkualitas” Selasa, (27/10/2015) lalu di Universitas Paramadina,Jakarta.

Dalam kegiatan yang diprakarasai KOMUNIKONTEN, Institut Media Sosial dan Diplomasi tersebut,  Marbawi (Direktur Eksekutif INSPIRE), menuturkan kampanye kotor didorong oleh berbagai motivasi. Pertama, karena faktor psikologis-politis. Informasi politik dan publik semakin banyak dibahas di media baru (media sosial, dll), meningkatkan preferensi psikologis pemilih terhadap figur kandidat tertentu dengan segala latar belakangnya. Pemilu/pilkada yang berlangsung pasca reformasi lebih banyak didorong oleh figur yang menciptakan “lovers” dan “haters”nya sendiri. “Kedua-duanya: buta. Keyakinan religius, ras dan suku, kelas sosial, dan skandal kandidat menjadi objek utama kampanye hitam yang bebas di media sosial”, jelas pria asal Bangka Belitung ini.  

Kedua, menurut Marbawi, faktor sosiologis-politis, dimana kelompok-kelompok politik yang gagal bertarung dengan “elegan” dengan mengusung program, kelompok korban kebijakan diskriminatif, kelompok intoleran, rendahnya kepercayaan pada sistem demokrasi, dan lain-lain kembali kepada isu-isu primordial dan mengeksploitasinya untuk pemenangan politik. Hasil akhir dari faktor ini sangat ditentukan oleh pola-pola demografis di daerah pemilihan maupun dan kesiapan negara dalam mengantisipasi konflik sosial menjelang dan pasca pemilu.

Ketiga, murni karena faktor ekonomi-politik. Terkesan “rasional”, kampanye didorong oleh motif-motif keuntungan ekonomi dari pertarungan politik yang sedang berlangsung. Kekuatan ekonomi ini dapat juga menggunakan faktor pertama dan kedua demi “menyelamatkan” bisnis. “disini pengguna medsos harus bersatu melawannya”, imbuh Marbawi dalam presentasinya yang berjudul “Kampanye Kotor: Musuh Demokrasi dan Kemanusiaan”

Marbawi, juga menyampaikan bahwa penggunaan media  sosial ramai sejak Obama menjadi kandidat calon presiden Amerika tahun  2008. Menurutnya media sosial cukup penting dalam banyak hal, setidaknya  ada dua entry point manfaat yang ada dalam media sosial, sebagai sarana  pelayanan dan sarana pencitraan. “Pelayanan seperti menyampaikan pesan, mempercepat penyebaran informasi,  dan lainnya. Selain pelayanan dan pencitraan, tentu media sosial juga  bisa menjadi sarana network dan conversation,” paparnya. by